Dewan Pers Ajak Jurnalis Kawal Isu Lingkungan dengan Kemasan Menarik

Anggota Dewan Pers Abdul Manan.
Sumber :
  • Madchan Jazuli

Jakarta, VIVA Jatim-Isu lingkungan akhir-akhir ini menjadi sorotan setelah terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera dan Aceh yang menewaskan ribuan orang. Sorotan tersebut tak lepas dari ribuan kayu gelondongan diduga hasil pembalakan liar hutan ikut hanyut.

img_title Rayakan Hari Jadi ke-5, Simplus Berkomitmen Terus Hadirkan Inovasi

Anggota Dewan Pers, Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Periode 2025-2028, Abdul Manan mengatakan jurnalis harus ikut mengawal isu lingkungan. Namun ia menekankan dalam menyampaikan agar dikemas dengan menarik.

"Bagaimana mengemas isu lingkungan ini bisa menyampaikan kepada masyarakat akan mewujudkan lebih banyak literasi lingkungan. Dengan pendekatan yang lebih menarik dan tidak membosankan," ujar Abdul Manan dalam acara The Cooler Earth 2025 CIMB Niaga, di JCC Senayan Jakarta kemarin.

img_title Perajin Sepatu Kulit di Mojokerto Kebanjiran Pesanan Jelang Tahun Ajaran Baru, Permintaan Naik Lima Kali Lipat

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia periode 2017-2021 ini mencontohkan banyak jurnalis hanya menulis seremonial penanaman pohon saat ada kegiatan aksi penanaman pohon di berbagai daerah. Tak banyak dari mereka menulis pasca aksi penanaman pohon.

"Ketika menanam 1 pohon apa kontribusinya kepada ke depan. Seberapa yang bisa menangkap karbon, itu yang dilakukan. Nah itulah akan membuat kontribusi," ujarnya.

img_title Pedjoeang Batik Hadir di Surabaya, Ingin Ajak Masyarakat Ikut Lestarikan Batik

Abdul Manan juga memberikan contoh program pembersihan Sungai Ciliwung. Ia melihat banyak media hanya meliput seremeni bersih-bersih sungai. Padahal akan lebih menarik apabila menulis dampak sampah di sungai yang tidak diambil. Termasuk bagaimana sampah tersebut bisa merusak mata rantai sungai.

"Kalau hanya penjelasan menulis diri sendiri, itu sebenarnya wartawan itu punya harus mau belajar soal sains sederhana," katanya.

Pria yang sebelumnya sebagai jurnalis senior dari Majalah Tempo ini tidak menampik dalam media saat ini tidak mendalam menulis isu lingkungan. Lantaran ada target harian tulisan yang harus dicapai seorang wartawan demi mengejar adsense. Sehingga mengabaikan produk tulisan yang mendalam dan berdampak.

"Memiliki inisiatif yang baik kadang kadang media tidak menugaskan ke wartawan yang ada, apalagi wartawan media yang kadang kadang dituntut 10 berita supaya bisa mendapatkan banyak adsense. Gunakanlah kesempatan itu (fellowship) untuk liputan yang serius supaya menghasilkan karya," pesannya.