Turnamen MLBB Goes to School 2025 di Surabaya : Selaraskan eSport dengan Pendidikan Formal
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim – Pemerintah Kota Surabaya berkolaborasi bersama pengembang gim global, Moonton Games, menggelar Grand Tournament Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) Goes To School 2025. Tujuannya, untuk membangun ekosistem esport yang sehat dan selaras dengan pendidikan formal.
Turnamen esport yang menyasar segmen pelajar tingkat SD dan SMP itu berlangsung di Atrium Tunjungan Plaza 3, Surabaya, mulai Kamis, 8 Januari 2026 hingga tiga hari ke depan.
Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games, Erina Tan mengungkapkan, gagasan penyelenggaraan event ini sebagai bentuk respon atas tingginya minat gim di kalangan pelajar berusia dini.
Menurutnya, popularitas gim harus dibarengi dengan tanggung jawab moral untuk mengarahkan pemainnya ke jalur yang positif.
"Ketika generasi muda menyukai gim kami, sudah menjadi tanggung jawab kami untuk mengarahkan mereka bermain secara sehat, terstruktur, dan bermakna. Hal ini kami wujudkan melalui pendampingan tepat dan kolaborasi erat dengan dunia pendidikan," ujar Erina.
Dia menambahkan, turnamen dibangun dari MLBB Teacher Ambassador sebagai fondasi utama. Dalam program ini, peran guru dimaksimalkan sebagai pendamping siswa. Dan program tersebut telah menjangkau 328 sekolah yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jombang, Kediri, Malang serta Mojokerto.
Erina menjelaskan, Jawa Timur dipilih sebagai wilayah perintis karena kesiapan infrastruktur pendidikan dan dukungan aktif tenaga pengajar. Sehingga bukan semata mencetak pemain profesional, melainkan menanamkan soft skills seperti kerja sama tim, komunikasi, kepemimpinan, dan berpikir strategis.
"Fokus kami tetap pada pendidikan dan pengembangan karakter. Ini pembelajaran bagi kami untuk mengembangkan program yang lebih terstruktur ke depannya," tambahnya.
Penyelenggaraan turnamen ini mendapat apresiasi penuh dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menekankan pentingnya keseimbangan antara hobi dan akademik.
Febrina meminta para guru dan orang tua untuk tetap memegang kendali pengawasan agar penggunaan gawai pada anak tetap dalam batas wajar dan produktif.
"Kami titip pesan kepada bapak dan ibu guru untuk membantu pengawasan. Anak-anak harus tetap sehat dan bijak menggunakan gadget. Kegiatan seperti ini harus berjalan seimbang dengan proses belajar di sekolah," tegas Febrina.