Psikolog Untag Surabaya Ungkap Kecemasan yang Dialami Gen Z di Balik Tren Nongkrong

Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya, Dr Diah Sofiah
Sumber :
  • VIVA Jatim/Humas Untag Surabaya

Surabaya, VIVA Jatim – Fenomena kecemasan yang banyak dialami mahasiswa dan generasi Z belakangan ini kian menjadi sorotan. Mulai dari tekanan akademik hingga gaya hidup, kondisi ini dinilai perlu dipahami secara ilmiah agar tidak berkembang menjadi masalah serius.

img_title Rektor Cup 2026, Cara Untag Surabaya Lahirkan Atlet Regional dan Internasional

Dekan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dr Diah Sofiah, menjelaskan bahwa kecemasan berbeda dengan rasa takut. Jika takut memiliki objek yang jelas, kecemasan justru muncul dari sesuatu yang tidak pasti dan abstrak.

"Kecemasan sebenarnya bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik. Justru karena tidak jelas, respons emosional menjadi lebih berat secara psikologis,” ujar Dr Diah, pada Sabtu 24 Januari 2026

img_title Untag Surabaya Resmikan Sport and Entrepreneurship Center, Siap Cetak Atlet dan Wirausahawan Muda

Dalam kajian psikologi, kecemasan terbagi menjadi dua, yakni state anxiety dan trait anxiety. State anxiety bersifat sementara, misalnya saat menghadapi presentasi atau ujian. Sementara trait anxiety berkaitan dengan kepribadian, ketika seseorang cenderung memandang banyak situasi sebagai ancaman.

Menurutnya, kecemasan juga tampak dalam tiga aspek, yaitu pikiran, respons tubuh, dan perilaku. Pikiran dipenuhi kekhawatiran berlebihan, tubuh bereaksi lewat jantung berdebar atau otot tegang, sementara perilaku ditandai dengan kecenderungan menghindari situasi yang memicu rasa cemas.

img_title Untag Surabaya Perluas Jejaring Global melalui Kunjungan Kampus dan Forum ASEAN di Tiongkok

Meski kerap dianggap negatif, Dr Diah menegaskan kecemasan memiliki sisi adaptif. Pada tingkat moderat, kecemasan justru membantu meningkatkan fokus dan kewaspadaan. Namun, jika berlebihan, performa bisa menurun dan aktivitas sehari-hari terganggu.

Ia juga menyoroti budaya ngopi di kalangan mahasiswa yang kerap dikaitkan dengan kecemasan. Menurutnya, kebiasaan nongkrong di kafe sering menjadi mekanisme pelarian sementara.

“Bukan sekadar kafein, tapi suasana kafe memberi rasa aman semu dan distraksi dari tugas,” jelasnya. Sayangnya, pola ini justru bisa memperkuat kecemasan karena menghindari masalah utama.

Dr Diah mengingatkan, konsumsi kafein berlebihan juga perlu diwaspadai. Dalam DSM-5, kondisi caffeine intoxication dan caffeine withdrawal diakui dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas tidur.

Ia berharap mahasiswa mampu mengenali kecemasan secara lebih sehat, memahami pola perilaku yang kurang adaptif, serta mengembangkan strategi koping yang efektif agar mampu menghadapi tuntutan akademik dan kehidupan sehari-hari dengan lebih seimbang.