Memukau! Murid SLB Tulungagung Tampilkan Tari Gambyong hingga Jaranan
- VIVA Jatim/Madchan Jazuli
"Jadi saya berharap meskipun secara fisik kalau mereka tidak bisa mendengar tapi mereka bisa menghayati melalui karya tari ini," ulasnya.
Ditanya soal perbedaan dengan tari jaranan, karena penarinya penderita tuna rungu yang membedakan karya seni jaran ini pertama adalah durasi. Durasi karya ini terbilang cukup pendek hanya 4,5 menit.
Renata mengaku karena tingkat konsentrasi anak-anak tuna rungu tidak bisa kita samakan dengan rekan-rekan dengar. Sehingga menyesuaikan kemampuan anak-anak yang berkebutuhan khusus.
"Jadi saya memang sengaja menciptakan karya tari yang durasinya cukup pendek. Sehingga mereka bisa lebih efektif, lebih total dan lebih powerful begitu. Begitu pula dengan konsentrasinya," bebernya.
Kemudian yang kedua adalah segmentasi gerak. Jadi dalam karya-karya untuk rekan-rekan dengar, gerak sangat fleksibel, gerak sangat eksploratif tapi untuk rekan-rekan disabilitas rungu terutama yang masih ia pelajari adalah dengan segmentasi gerak itu membantu mereka untuk mengingat materi.
Ia melanjutkan, misalnya setelah gerakan berlari dengan hitungan 8 kali 8, kemudian baru diam, 4 kali 8, setelah itu baru motif berlari lagi moving dilakukan terus-menerus.
Sehingga untuk perpindahan tempo, perpindahan level gerak dari rendah ke tinggi itu dilakukan secara bertahap. Jadi tidak tidak semata-mata mengeksplorasi gerak secara bebas.
"Jadi saya selalu mempertimbangkan kekuatan mereka, kemampuan mereka, daya tangkap mereka, kemampuan tubuh mereka, menyerap materi dan lain-lainnya. Dan ini juga pertama kalinya mereka memegang properti berupa kepang, jalan kepang dan juga pecut," tandasnya.