Cara Membiasakan Anak Makan Sahur Tanpa Drama, Ini Tips dari Pakar Pendidikan
- Rachmad Fahrizal Tito.
Surabaya, VIVA Jatim-Membangunkan anak untuk Makan sahur kerap menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Tak sedikit anak yang menunjukkan “GTMM” atau Gerakan Tutup Mulut dan Mata saat waktu sahur tiba.
Kondisi ini tentu membutuhkan kesabaran ekstra agar suasana tetap hangat dan tidak berubah menjadi drama pagi hari.
Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Elmi Tri Yuliandari, membagikan sejumlah tips agar anak tetap semangat menjalani sahur selama Ramadan. Menurut Elmi, kunci pertama adalah memastikan anak memiliki waktu istirahat yang cukup. Anak yang tidur terlalu larut malam akan sulit dibangunkan saat sahur.
“Jangan sampai si kecil tidur terlalu larut malam. Hal ini akan membuat anak susah bangun ketika waktunya makan sahur. Bangunkan anak minimal 30 menit sebelum imsak agar mereka juga bisa melaksanakan salat subuh berjamaah bersama orang tua,” ujarnya, Kamis 19 Februari 2026.
Kedua, orang tua perlu memberikan pemahaman sederhana tentang pentingnya sahur. Penjelasan yang mudah dipahami akan membantu anak mengerti manfaat sahur sebagai sumber energi selama berpuasa.
Dengan memahami manfaatnya, anak cenderung lebih kooperatif dan merasa memiliki tanggung jawab menjalankan ibadah.
Tips ketiga adalah menyiapkan menu sahur favorit anak. Orang tua bisa berdiskusi terlebih dahulu sebelum tidur mengenai makanan yang diinginkan, tentu dengan tetap memperhatikan kandungan gizi.
“Hal ini akan membuat nafsu makan anak bertambah dan lebih semangat ketika dibangunkan waktu makan sahur,” tambah Elmi.
Keempat, biasakan makan sahur bersama keluarga. Kebersamaan saat sahur akan membuat anak merasa tidak sendirian. Suasana hangat dan obrolan ringan tentang aktivitas sehari sebelumnya atau rencana esok hari bisa membuat anak lebih terjaga dan bersemangat.
Terakhir, berikan motivasi dan dukungan secara konsisten. Pujian dengan kalimat positif akan membuat anak merasa dihargai.
“Tentu hal ini akan membuat anak merasa dihargai dan mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya,” pungkasnya.
Elmi menegaskan, setiap anak memiliki karakter berbeda. Karena itu, pendekatan yang digunakan orang tua juga harus disesuaikan. Yang tak kalah penting, orang tua perlu memberi teladan dengan menjalankan puasa dan ibadah secara konsisten selama Ramadan.