Fenomena Gen Z Ogah Jadi Manajer, Dosen Ubaya Ungkap Dampaknya bagi Perusahaan
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim-Media sosial tengah ramai membahas fenomena Generasi Z yang cenderung menghindari posisi manajerial. Tren ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi gejala global yang memicu perdebatan di dunia kerja.
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. Elsye Tandelilin, menyebut fenomena tersebut dalam kajian manajemen dikenal sebagai The Management Gap atau Conscious Uncoupling from Management.
“Bagi Gen Z, menduduki jabatan manajerial bukan lagi dianggap sebagai prestasi, tetapi sebagai beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima,” jelas Elsye, Kamis 19 Februari 2026.
Menurutnya, dalam jangka pendek fenomena ini dapat memicu kekosongan kepemimpinan, khususnya pada level middle manager. Angka pengunduran diri atau turnover berpotensi meningkat karena minimnya minat untuk naik jabatan.
Jika terus berlanjut, perusahaan dapat menghadapi krisis suksesi kepemimpinan di level atas. Dampaknya bukan hanya pada struktur organisasi, tetapi juga pada kondisi finansial perusahaan yang harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk rekrutmen eksternal serta pelatihan.
“Dapat terjadi penurunan inovasi organisasi akibat tidak adanya ‘jembatan’ yang menghubungkan visi strategis dan eksekusi teknis,” paparnya.
Elsye juga menyoroti risiko burnout pada manajer senior. Ketergantungan yang tinggi terhadap pimpinan lama dapat memperburuk kualitas lingkungan kerja dan membuat fondasi manajerial menjadi rapuh dalam jangka panjang.
Sebagai solusi, ia merekomendasikan pendekatan Individual Contributor (IC), yakni sistem karier yang memungkinkan karyawan berkembang tanpa harus masuk ke jalur manajerial.
“Jangan memaksa karyawan kompeten menerima kenaikan jabatan hanya demi kenaikan gaji. Hadirkan sistem kompensasi berbasis kinerja dan kontribusi. Mengingat Gen Z cenderung menghindari pekerjaan administrasi, perusahaan juga perlu mengoptimalkan otomatisasi dengan teknologi,” tegas Kepala Laboratorium Manajemen Sumber Daya Manusia Prodi Manajemen Ubaya itu.
Selain itu, transformasi juga perlu dilakukan di level top management. Elsye menekankan pentingnya kepemimpinan empatik dan komunikasi dua arah.
“Gen Z tidak hanya ingin diperintah, tetapi juga didengar. Mereka lebih termotivasi ketika pendapatnya dianggap relevan dan diterima pimpinan,” pungkasnya.
Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi perusahaan di era perubahan generasi tenaga kerja. Adaptasi strategi manajemen dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas organisasi sekaligus mendorong inovasi berkelanjutan.