Ramadan Biasanya Laris, Pedagang Es Degan di Surabaya Mengeluh Omzet Turun

Kelapa muda
Sumber :
  • Mokhamad Dofir

Surabaya, VIVA Jatim-Es kelapa muda alias es degan biasanya laris manis di Bulan Ramadan. Sebab, masyarakat cenderung memilihnya sebagai menu utama saat berbuka puasa sehingga meningkatkan omzet penjualan.

img_title Waspada Angin Kencang, Polisi dan Tim Gabungan Evakuasi Pohon Tumbang di Tebel Gedangan Sidoarjo

Sayang kondisi ini tak dirasakan Sumidah (60), salah seorang penjual es degan yang sehari-hari berjualan di kawasan Ketintang, Kota Surabaya.

Perempuan lanjut usia asal Sidoarjo itu mengaku sudah dua Ramadan terakhir dagangannya sepi pembeli. Pendapatan yang diterima juga turun drastis berkali-kali lipat dari biasanya. Padahal, minuman familier masyarakat Indonesia tersebut selalu menjadi primadona di Bulan Puasa.

img_title Lapas Kelas I Surabaya Porong Panen 400 Kg Jagung Manis untuk Warga Binaan

"Dulu sehari bisa dapat Rp1 juta. Sekarang paling cuma sekitar Rp350 ribu," ujar Sumidah kepada Viva Jatim, Selasa, 3 Maret 2026.

Ia mengatakan, penurunan omzet saat ini sangat dirasakan. Jauh bila dibandingkan pendapatan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya dalam sehari Sumidah mampu menghabiskan hingga 100 butir kelapa muda. Namun pada Ramadan kali ini, jumlah tersebut baru ludes dalam waktu tiga hari. 

img_title Polda Jatim Bangun Mako Kompi di Pasuruan, Jadi Basis Baru Personel Brimob

"Kalau sekarang, 100 butir bisa tiga hari baru habis. Biasanya sehari sudah habis," katanya.

Sumidah mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab sepinya pembeli. Ia menduga karena faktor cuaca, bulan puasa berbarengan dengan musim penghujan. Bila Masyarakat selalu berburu es degan untuk berbuka puasa, saat ini kemungkinan mereka lebih memilih minuman hangat sebagai pengusir dahaga.

"Saya kurang tahu penyebabnya apa. Mungkin karena musim hujan, atau bagaimana saya juga tidak tahu," tuturnya.

Di tengah penurunan penjualan, ia juga menghadapi kenaikan harga bahan baku. Harga kelapa muda di tingkat agen naik Rp1.000 per butir. Meski begitu, Sumidah memilih tidak menaikkan harga jual. 

Sudah lima tahun terakhir, ia menjual es kelapa muda seharga Rp15 ribu per butir. Sementara untuk pembelian per gelas, harganya juga bertahan di Rp8 ribu.

Meski pendapatan menurun cukup drastis, Sumidah berusaha tetap bersyukur dan bertahan. Ia berharap kondisi penjualan bisa kembali membaik, terutama di momen Ramadan yang identik dengan meningkatnya konsumsi minuman segar untuk berbuka puasa.

"Kenaikan di agen ada, tapi saya masih jual Rp15 ribu per butir. Per gelas juga tetap Rp8 ribu, tidak berubah," tutupnya.