CEO Kawoong Innovation: STEAM Jadi Fondasi Inovasi Teknologi Nasional 2045
- Kawoong Innovation
Surabaya, Viva Jatim – CEO Kawoong Innovation, Hadi Wardoyo, menegaskan bahwa pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) menjadi fondasi penting dalam mendorong inovasi teknologi nasional menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak cukup hanya bertumpu pada aspek teknis, tetapi juga harus mengedepankan nilai kemanusiaan.
Selama beberapa dekade terakhir, dunia pendidikan dan industri cenderung berfokus pada STEM. Namun, di tengah tantangan masa depan, pendekatan tersebut dinilai belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Hadi menilai, integrasi unsur seni dalam STEAM menjadi kunci untuk menciptakan teknologi yang lebih adaptif dan mudah diterima.
Ia menjelaskan, peralihan dari STEM ke STEAM bukan sekadar penambahan satu elemen, melainkan perubahan cara berpikir dalam membangun inovasi. Seni, dalam hal ini, berperan sebagai jembatan yang menghubungkan teknologi dengan kebutuhan manusia.
Menurut Hadi, produk berbasis STEM yang terlalu teknis kerap menghasilkan inovasi yang kaku, kurang estetis, dan sulit dipahami masyarakat luas. Karena itu, kehadiran seni menjadi penting untuk menghadirkan sentuhan humanis dalam teknologi.
“Seni dalam STEAM hadir untuk memanusiakan teknologi. Tanpa sentuhan seni, teknologi hanya menjadi mesin yang dingin,” ujarnya di Surabaya, Kamis, 19 Maret 2026.
Ia juga mengutip pepatah Latin Ars longa, vita brevis yang menggambarkan bahwa karya seni dan ilmu pengetahuan memiliki daya tahan yang melampaui usia penciptanya. Hal ini menunjukkan pentingnya menciptakan inovasi yang tidak hanya fungsional, tetapi juga bermakna.
Salah satu implementasi nyata STEAM di Kawoong Innovation adalah pengembangan QR Art atau Codeisme, karya inovatif dari Doddy Hernanto atau yang dikenal sebagai Mr D. Inovasi ini menggabungkan teknologi QR Code dengan unsur seni visual tanpa mengurangi fungsi utamanya.
Hadi menjelaskan, sebelumnya QR Code hanya berupa pola hitam-putih yang bersifat fungsional. Namun melalui pendekatan STEAM, teknologi tersebut berkembang menjadi media visual yang lebih menarik dan komunikatif.
“STEAM membuktikan bahwa algoritma dapat berpadu dengan estetika tanpa menghilangkan fungsi teknisnya. Ini menunjukkan bahwa engineering dan seni harus berjalan beriringan,” jelasnya.