Insider Borong BBCA, Sinyal Rebound Kian Kuat di Tengah Valuasi Murah

Ilustrasi
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, VIVA Jatim – Di tengah fluktuasi pasar saham pada awal 2026, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru menunjukkan sinyal yang tak biasa. Alih-alih bersikap defensif, jajaran direksi dan manajemen bank swasta terbesar di Indonesia ini tercatat agresif membeli saham perseroan menggunakan dana pribadi bernilai miliaran rupiah.

img_title BCA Ajak Mahasiswa Kembangkan Desa Wisata Lewat Genera-Z Berbakti 2026

Fenomena ini dinilai bukan sekadar transaksi biasa, melainkan strategi investasi yang dikenal sebagai buy on weakness, yakni membeli aset berkualitas saat harga sedang terkoreksi.

Pengamat pasar modal Rendy Yefta menilai aksi tersebut mencerminkan tingkat kepercayaan tinggi dari pihak internal terhadap prospek jangka panjang perusahaan.

img_title Polisi Buru Pembuat M-Banking Kelabui Korban Masuk 5 Miliar Fiktif di Trenggalek

“Ketika orang dalam perusahaan justru memborong sahamnya sendiri di tengah tekanan pasar, itu menjadi sinyal kuat bahwa mereka melihat valuasi saat ini sebagai peluang, bukan ancaman,” ujar Rendy, Minggu, 19 April 2026.

Sepanjang kuartal I 2026, sejumlah nama penting di jajaran manajemen BCA tercatat melakukan pembelian saham dalam jumlah signifikan. Hendra Lembong mengalokasikan dana hingga Rp7,93 miliar, disusul Wakil Presiden Direktur John Kosasih sebesar Rp4,37 miliar pada Maret 2026. Vera Eve Lim turut membeli saham senilai Rp3,84 miliar, sementara Direktur Santoso mencatat transaksi Rp3,46 miliar pada periode yang sama.

img_title Ambil Bagian dalam BCA Expoversary Surabaya 2026, BCA Syariah Berikan Kemudahan Akses Layanan

Selain itu, Managing Director Frenkie Candra Kusuma mengakumulasi saham senilai Rp2,87 miliar sejak Maret 2025, dan Direktur Lianawaty Suwono memborong 300.000 saham senilai Rp2,1 miliar pada akhir Januari 2026, tepat saat pasar tengah bergejolak.

Menurut Rendy, aksi kolektif tersebut menjadi indikasi kuat bahwa manajemen melihat harga saham BBCA saat ini berada di bawah nilai wajarnya.

“Ini bukan hanya soal kepercayaan diri, tapi juga refleksi bahwa mereka yang paling memahami kondisi internal perusahaan melihat ada potensi kenaikan ke depan,” katanya.

Dari sisi valuasi, Rendy menjelaskan bahwa saham BBCA saat ini diperdagangkan pada kisaran price to earnings ratio (PER) sekitar 15 kali. Angka ini dinilai relatif rendah jika dibandingkan dengan fundamental perusahaan yang kuat.

“Dengan PER sekitar 15 kali, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank dengan kinerja paling konsisten di Indonesia. Ini tergolong murah untuk emiten sekelas BCA,” lanjut dia.

Halaman Selanjutnya
img_title