Guru Besar Unitomo Ungkap Strategi Transformasi Batik Tulis Menuju Industri Fashion Global

Pengukuhan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dr. Soetomo, Prof. Dr. Dra. Liosten Rianna Roosida Ully Tampubolon, M.M.
Sumber :
  • Unitomo

Surabaya VIVA Jatim-Industri batik tulis Indonesia dinilai harus segera bertransformasi dengan menggabungkan kearifan lokal dan inovasi teknologi modern agar mampu bersaing di pasar fashion dunia. Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

img_title Rayakan Hari Jadi ke-5, Simplus Berkomitmen Terus Hadirkan Inovasi

Gagasan itu disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dr. Soetomo, Prof Liosten Rianna Roosida Ully Tampubolon, saat menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan guru besar di Surabaya.

Dalam orasi bertajuk From Heritage to Global Fashion: Optimalisasi Diversifikasi Batik Tulis Berbasis Inovasi Teknologi menuju Industri Kreatif Dunia, Prof Ully menyoroti berbagai tantangan industri kecil menengah (IKM) batik nasional yang selama ini sulit menembus pasar internasional.

img_title Perajin Sepatu Kulit di Mojokerto Kebanjiran Pesanan Jelang Tahun Ajaran Baru, Permintaan Naik Lima Kali Lipat

“Selama ini penetrasi pasar global industri batik kerap terbentur pola produksi tradisional, minimnya diversifikasi, serta rendahnya literasi digital,” ujar Prof Ully.

Menurutnya, integrasi teknologi modern menjadi solusi strategis agar batik tetap mempertahankan nilai budaya namun mampu bersaing di industri fashion global yang semakin kompetitif.

img_title Pedjoeang Batik Hadir di Surabaya, Ingin Ajak Masyarakat Ikut Lestarikan Batik

Dalam risetnya selama 2014 hingga 2026, Prof Ully mengembangkan berbagai inovasi teknologi untuk mendukung produksi batik tulis di Jawa Timur, salah satunya pada Batik Tulis Aromatherapy Al-Warits di Bangkalan, Madura.

Hasilnya, pemanfaatan mesin pelorot malam inovatif mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 373 persen dibanding metode konvensional. Tingkat kecacatan produk pun turun drastis dari 15 persen menjadi hanya 1 persen.

Tak hanya itu, ia juga memperkenalkan Mesin Peratusan Aromatherapy yang membuat aroma wangi kain batik mampu bertahan hingga tiga tahun. Sementara limbah pewarna sintetis diolah menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar lebih ramah lingkungan.

“Teknologi ini bukan untuk menghilangkan nilai tradisional batik, tetapi memperkuat daya saingnya,” katanya.

Kini, produk batik inovatif tersebut telah menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat, Eropa, Australia, Jepang, Singapura hingga Thailand.

Untuk menghadapi persaingan produk luar negeri seperti China dan Malaysia, Prof Ully juga mengembangkan mesin pembuat motif batik otomatis guna memperkaya variasi desain dan mempercepat produksi.

Sementara itu, Rektor Universitas Dr. Soetomo, Prof. Siti Marwiyah, menegaskan kampusnya berkomitmen mendorong hilirisasi riset agar memberi dampak nyata bagi masyarakat dan ekonomi kerakyatan.

Halaman Selanjutnya
img_title