Kemenperin: Indowood Expo 2026 Jadi Momentum Transformasi Industri Mebel Menuju Era 4.0

Andi Rizaldi saat di Surabaya
Sumber :
  • Mokhamad Dofir

Surabaya, VIVA Jatim-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjadikan penyelenggaraan Indonesia Forestry and Woodworking Machinery Expo (Indowood Expo) 2026 sebagai momentum untuk mempercepat transformasi industri mebel nasional menuju era Industri 4.0.

img_title Indonesia Energy Week Surabaya 2026 Jadi Ruang Pengetahuan Perkembangan Energi dan Kebutuhan Industri

Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kementerian Perindustrian Andi Rizaldi menyebut, transformasi teknologi menjadi kebutuhan mendesak agar industri furnitur nasional mampu meningkatkan daya saing sekaligus membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

"Kalau membaca sejarah, salah satu cara untuk mengejar ketertinggalan adalah dengan industrialisasi. Dengan industrialisasi inilah kita berharap terjadi lompatan ekonomi sehingga Indonesia bisa keluar dari middle income trap," ujarnya saat pembukaan Indowood Expo 2026 di Grand City Surabaya, Kamis, 4 Juni 2026.

img_title Mandiri Auto Deals 2026 di Surabaya, MUF bersama Bank Mandiri Buka Akses Luas Pembiayaan EV

Meski demikian, Kemenperin mencatat kesiapan industri furnitur nasional dalam menghadapi transformasi digital masih tergolong rendah. Berdasarkan evaluasi tahunan kesiapan industri menuju Industri 4.0, hingga saat ini belum ada industri furnitur maupun pengolahan kayu yang berhasil mencapai skor kesiapan di atas tiga, yang menjadi standar industri siap bertransformasi ke era digital.

"Dari sekian banyak industri yang kami evaluasi, baru sekitar 100 perusahaan yang memiliki nilai Indonesia Industry 4.0 Readiness Index di atas tiga. Sayangnya untuk industri furnitur dan pengolahan kayu belum ada yang mencapai nilai tersebut," lanjut Andi.

img_title Pelaku Usaha Keluhkan KBLI 2025, Kadin Jatim Dorong Regulasi yang Lebih Efisien

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku industri mebel untuk mempercepat digitalisasi dan modernisasi proses produksi. Apalagi industri furnitur nasional memiliki potensi besar karena mampu mengekspor sekitar 80 persen dari total produksinya meski tingkat utilisasi industri masih berada di kisaran 60 persen.

"Ini menunjukkan potensinya sangat besar. Dengan digitalisasi dan transformasi teknologi, produktivitas dan kapasitas industri dapat meningkat lebih tinggi lagi," ujarnya.

Data Kemenperin menunjukkan industri furnitur nasional saat ini berjumlah sekitar 2.600 perusahaan dengan mayoritas tergabung dalam Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). Industri tersebut menyerap lebih dari 800 ribu tenaga kerja dan masih didominasi pelaku usaha yang beroperasi di Pulau Jawa.

Kemenperin juga mencatat pasar furnitur global pada 2025 mencapai sekitar 700 miliar dolar AS dan diproyeksikan terus tumbuh rata-rata 5 persen hingga 2034. Namun, tren pasar global kini mengarah pada produk furnitur yang lebih fungsional, ergonomis, ramah lingkungan, serta didukung fitur tambahan yang sesuai kebutuhan konsumen modern.

Halaman Selanjutnya
img_title