Fashionology 2026 UC Surabaya: Koleksi Bertema Skizofrenia hingga Hip Hop Lokal Curi Perhatian Pengunjung
- VIVA Jatim/Tito
Surabaya, VIVA Jatim-Ajang Fashionology 2026 yang digelar Program Studi Fashion Product Design and Business, Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) Surabaya menghadirkan karya-karya unik yang tak hanya mengedepankan estetika, tetapi juga mengangkat isu sosial dan budaya. Salah satu yang mencuri perhatian adalah koleksi streetwear bertema skizofrenia paranoid hingga budaya hip hop lokal yang dikemas dalam sentuhan fashion kontemporer.
Fashionology 2026 berlangsung pada 5-7 Juni 2026 di Ciputra World Surabaya dengan mengusung tema The Liminal. Sebanyak 56 mahasiswa tingkat akhir menampilkan karya terbaik mereka sebagai puncak perjalanan akademik sekaligus langkah awal memasuki industri fashion profesional.
Salah satu koleksi yang menjadi sorotan adalah karya bertajuk Interior milik mahasiswa Jocelin Clementine. Koleksi streetwear konseptual tersebut terinspirasi dari pengalaman psikologis penderita skizofrenia paranoid yang diterjemahkan ke dalam desain penuh simbol dan makna.
Menggunakan material denim, cotton twill, dan scuba spandex, Jocelin menghadirkan busana yang menggambarkan perasaan curiga, ketakutan, hingga konflik batin yang kerap dialami penyandang gangguan tersebut.
Elemen sobekan atau slashing pada pakaian merepresentasikan luka psikologis, sementara tali merah dan rantai menjadi simbol keterkungkungan dalam kondisi yang tidak dipilih.
"Siluet oversized menjadi representasi mekanisme pertahanan diri, konstruksi asimetris menggambarkan ketidakstabilan emosional, sementara motif mata yang tersebar pada kain merepresentasikan rasa diawasi secara terus-menerus," jelas Jocelin.
Tak kalah menarik, mahasiswa Muhammad Atho'illah menghadirkan koleksi streetwear yang terinspirasi dari budaya hip hop lokal. Karya tersebut menampilkan karakter khas komunitas hip hop melalui celana sagging, denim gombrong, teknik layering, hingga penggunaan aksesori yang kuat sebagai identitas visual.
Menariknya, Atho'illah menggandeng UMKM asal Mojokerto, Omah Batik Pina Pinu, dengan memanfaatkan limbah deadstock kain batik yang diolah menggunakan teknik patchwork dan applique.
Hasilnya adalah koleksi streetwear modern yang memadukan budaya lokal dengan tren global yang dekat dengan generasi muda.
"Koleksi ini menunjukkan bagaimana fashion bisa menjadi medium pembentukan identitas, ekspresi komunitas, sekaligus ruang dialog antara budaya global dan akar budaya lokal Indonesia," ujarnya.
Ketua Program Studi Fashion Product Design and Business UC sekaligus Ketua Fashionology 2026, Yoanita Kartika Sari Tahalele, mengatakan ajang ini menjadi wadah mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menjawab berbagai persoalan melalui desain fashion.
"Fashionology 2026 adalah perayaan atas proses, ketekunan, dan transformasi mahasiswa selama empat tahun belajar. Di balik setiap koleksi terdapat riset, eksplorasi, kreativitas, dan keberanian menawarkan solusi melalui desain," kata Yoanita.
Selain menghadirkan karya mahasiswa UC, Fashionology 2026 juga melibatkan lima universitas internasional, yakni Tsinghua University China, Shih Chien University Taiwan, Manchester Metropolitan University Inggris, Swinburne University Australia, dan TAR UMT Malaysia.
Melalui berbagai karya yang ditampilkan, Fashionology 2026 membuktikan bahwa fashion masa depan tidak hanya berbicara tentang tren dan gaya, tetapi juga keberlanjutan, identitas budaya, inovasi, hingga keberanian generasi muda menyuarakan isu sosial melalui karya kreatif.