Penggunaan Media Sosial Kian Dominan di Kalangan Anak-Anak, Ini Risikonya
- U-Report via Viva.co.id
Surabaya, VIVA Jatim-Di tengah meningkatnya polarisasi di ruang digital, media sosial turut membawa konsekuensi terhadap cara masyarakat berinteraksi dan membangun relasi sosial. Anak-anak menjadi kalangan yang rentan mengalami dampak buruk dari interaksi yang terbangun melalui media virtual itu.
Guru Besar Media Prof Rachmah Id mengingatkan adanya risiko penggunaan media sosial di kalangan anak-anak. Saat ini, katanya, banyak anak mengenal media sosial sejak usia sangat dini. Bahkan, sebagian orang tua telah memperkenalkan anak pada dunia digital sebelum mereka memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami berbagai risiko yang ada di dalamnya.
“Anak-anak sekarang tumbuh bersama media sosial. Padahal, orang tua merupakan role model utama yang seharusnya membentuk nilai, karakter, dan cara anak memahami lingkungan sosialnya,” ujarnya.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR itu menjelaskan bahwa ruang digital menyimpan berbagai risiko yang sering luput dari perhatian masyarakat. Salah satunya adalah ancaman predator digital dan eksploitasi anak yang dapat memanfaatkan berbagai informasi pribadi yang tersebar di internet. Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental generasi muda.
Menurutnya, banyak anak dan remaja merasa nyaman berada di ruang digital, tetapi perlahan kehilangan kesempatan untuk membangun interaksi sosial yang lebih luas.
“Media sosial membuat sebagian anak merasa cukup dengan dunia digitalnya. Akibatnya, mereka berisiko mengalami alienasi sosial karena berkurangnya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan anak dalam membangun relasi sosial, empati, serta keterampilan komunikasi yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam jangka panjang, paparan interaksi digital yang tidak terkontrol juga berpotensi membentuk pola hubungan yang lebih individualistis. Sehingga anak cenderung mengalami kesulitan dalam memahami emosi.
Prof Ida menekankan bahwa keluarga memegang peran utama dalam membangun kebiasaan bermedia sosial yang sehat. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping sekaligus pengawas yang membantu anak memahami manfaat dan risiko penggunaan media sosial.
Selain keluarga, sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat interaksi sosial secara langsung melalui berbagai aktivitas pembelajaran dan pengembangan karakter. Menurutnya, lembaga pendidikan perlu mendorong siswa untuk aktif berkomunikasi dan berkolaborasi di dunia nyata. Bukan hanya di ruang digital.