ITS Ciptakan Kapal Pembersih Sampah Tanpa Awak, Bisa Bersihkan Laut dari Ancaman Mikroplastik
- Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim-Permasalahan sampah laut yang terus mengancam ekosistem perairan Indonesia mendorong lahirnya berbagai inovasi teknologi. Salah satunya datang dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang mengembangkan kapal pembersih sampah tanpa awak untuk membantu mengatasi pencemaran di wilayah pesisir.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh dosen Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Hasanudin bersama tim penelitinya. Kapal tersebut resmi diluncurkan di Amphitheatre InfinITS, Kamis, 11 Juni 2026.
Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati mengatakan persoalan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemerhati lingkungan, tetapi juga menjadi tantangan yang harus dijawab oleh dunia akademik melalui inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Teknologinya sederhana, tetapi insya Allah manfaatnya besar. Ini sejalan dengan cita-cita ITS sebagai kampus yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujar Bambang.
Hasanudin menjelaskan, kapal pembersih sampah tersebut dirancang sebagai solusi terhadap tingginya pencemaran sampah dan mikroplastik yang mengancam keberlanjutan ekosistem laut, khususnya di kawasan pesisir.
Menurutnya, sampah kiriman yang menumpuk di wilayah pantai menjadi ancaman serius bagi kehidupan biota laut apabila tidak segera ditangani.
"Sampah kiriman di wilayah pesisir menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan hayati. Jika tidak ditangani, ekosistem laut kita menjadi taruhan," katanya.
Berbeda dengan teknologi serupa yang cenderung kompleks dan mahal, kapal buatan ITS ini mengedepankan konsep sederhana agar mudah dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat pesisir.
Kapal menggunakan desain lambung ganda untuk menjaga stabilitas saat beroperasi. Pada bagian depan dipasang sirip pengarah yang berfungsi mengumpulkan sampah menuju keranjang penampung di bagian tengah kapal ketika bergerak di permukaan air.
"Kami sengaja mendesain sistem yang sederhana namun kuat karena memang ditargetkan untuk masyarakat pesisir," ujarnya.
Menariknya, kapal ini dapat dikendalikan menggunakan remote control dari jarak hingga satu kilometer. Sistem tersebut dipilih untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya operasional dan perawatan.
"Kadang teknologi yang terlalu canggih justru mangkrak karena biaya perawatan tinggi dan minimnya tenaga ahli di daerah pesisir," ungkap Hasan.