CEKA Al Fithrah Gandeng Muda Bisa Cafe Siapkan Mahasiswa Jadi Wirausahawan
- Dokumentasi CEKA.
Surabaya, VIVA Jatim – Perguruan tinggi menghadapi tantangan baru. Terbatasnya lapangan kerja formal membuat perguruan tinggi tidak lagi cukup mencetak lulusan yang siap mengisi pasar kerja, tetapi juga perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis agar mampu menciptakan peluang usaha sendiri.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Club Entrepreneurs Kampus Al Fithrah (CEKA) menggandeng Muda Bisa Cafe. Kolaborasi dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dirangkai dengan pelatihan barista di Workshop Muda Bisa Cafe, Kenjeran, Sabtu kemarin. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi kewirausahaan mahasiswa.
Pelatihan diikuti mahasiswa dari berbagai program studi yang tergabung dalam CEKA. Selama kegiatan, peserta tidak hanya mempelajari teknik dasar meracik kopi dan mengoperasikan mesin espresso, tetapi juga memahami standar pelayanan pelanggan, menjaga kualitas produk, mengenal pengelolaan usaha kuliner, serta membangun komunikasi dan kerja sama tim.
Model pembelajaran seperti ini dinilai semakin relevan di tengah dinamika dunia kerja yang semakin sempit. Selain membutuhkan kompetensi akademik, lulusan perguruan tinggi juga dituntut memiliki kemampuan adaptif, pengalaman praktik, dan keberanian membaca peluang usaha. Pengalaman berinteraksi langsung dengan pelaku industri diharapkan mampu memperkaya perspektif mahasiswa tentang dunia kerja sekaligus membuka ruang bagi lahirnya wirausaha muda.
Pembina CEKA, M. Tsanin Zuhairy, mengatakan teori yang diperoleh di ruang kuliah merupakan fondasi penting. Namun, menurutnya, pengalaman praktik menjadi unsur yang melengkapi proses pembelajaran agar mahasiswa memahami bagaimana sebuah usaha dijalankan.
"Teori merupakan fondasi yang penting. Namun, pengalaman hanya dapat diperoleh ketika mahasiswa berani mencoba dan terjun langsung ke dunia praktik. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang menghubungkan keduanya sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep kewirausahaan, tetapi juga mengalami bagaimana sebuah usaha dijalankan," ujarnya dikutip Minggu, 28 Juni 2026.
Ketua CEKA, Siti Tsuroya Fadiyah, menilai pelatihan barista dipilih karena memberikan pengalaman yang utuh mengenai proses menjalankan usaha. Menurutnya, keterampilan teknis hanyalah salah satu bagian dari pembelajaran.
"Di balik secangkir kopi, mahasiswa belajar disiplin, menjaga kualitas produk, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, berkomunikasi secara efektif, serta bekerja dalam tim. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin membangun usaha," katanya.