Surabaya Printing Expo Hadir 8 Juli 2026, Dorong Transformasi Industri Grafika Nasional
- Mokhamad Dofir
Surabaya, Viva Jatim – Surabaya kembali menjadi pusat perhatian industri grafika nasional seiring akan digelarnya Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 di Grand City Convex mulai 8 hingga 11 Juli 2026.
Pameran yang menghadirkan 153 perusahaan ini akan menampilkan beragam inovasi di bidang teknologi percetakan, digital printing, packaging, hingga solusi industri kreatif yang diharapkan mampu mempercepat transformasi industri grafika nasional di tengah perkembangan teknologi dan dinamika ekonomi.
CEO Krista Exhibitions, Daud D Salim mengatakan, jumlah peserta tahun ini meningkat dibanding penyelenggaraan sebelumnya.
"Pameran Surabaya Printing Expo kali ini ada peningkatan sedikit dibanding tahun lalu, menjadi 153 perusahaan. Yang ditampilkan lebih banyak industrial printing technology, termasuk packaging decoration, printing untuk promosi, percetakan tekstil, dan digital printing," ujarnya, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurut Daud, meningkatnya kebutuhan industri makanan dan minuman turut mendorong permintaan terhadap sektor kemasan dan percetakan. Karena itu, SPE 2026 tidak hanya menjadi ajang memamerkan mesin dan teknologi terbaru, tetapi juga menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing industri grafika nasional.
Pandangan tersebut sejalan dengan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, yang menilai pameran tahun ini hadir sebagai jawaban atas tantangan yang dihadapi industri percetakan.
"Pameran ini bukan hanya sekadar ajang jual beli mesin, melainkan ruang solusi bisnis," katanya.
Menurut Ahmad, kondisi ekonomi saat ini cukup menantang sehingga menuntut pelaku industri bekerja lebih efisien melalui pemanfaatan teknologi yang hemat energi, minim limbah, serta memiliki produktivitas lebih tinggi.
Di sisi lain, pelaku usaha juga didorong untuk melakukan diversifikasi bisnis dengan mengembangkan sektor packaging, labeling, smart packaging, hingga creative printing yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan besar.
Transformasi tersebut, lanjut Ketua DPD PPGI Jawa Timur Iwan Dhamar Suprihantono, menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital bukan menjadi ancaman bagi industri percetakan, "Industri percetakan kita di Indonesia tidak sedang kehilangan masa depannya, tetapi sedang menemukan masa depan yang baru dengan teknologi-teknologi baru dan kreativitas baru," imbuhnya.
Ia menjelaskan kebutuhan pasar kini telah bergeser dari produk cetak konvensional menuju kemasan kreatif, produk yang dipersonalisasi, hingga teknologi 3D printing. Bahkan, pengunjung juga akan menemukan mesin-mesin produksi karya anak bangsa yang diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap mesin impor sekaligus membuka peluang tumbuhnya industri kreatif berbasis teknologi.