22 Tahun Menanti, Pasutri Sumenep Dikaruniai Bayi Kembar Berkat IVF Morula Surabaya
- Mokhamad Dofir
Surabaya, VIVA Jatim-Selama 22 tahun, pasangan suami istri Yusuf Santoso dan Mina hanya bisa membayangkan seperti apa rasanya dipanggil ayah dan ibu. Penantian panjang pasangan asal Sumenep, Madura, itu akhirnya terbayar ketika program fertilisasi in vitro (IVF) yang mereka jalani di Morula Surabaya membuahkan hasil.
Tak hanya dikaruniai seorang anak, mereka justru menyambut kelahiran bayi kembar, Ryan dan Raina, pada 2 Juni 2026.
Tangis bayi yang memenuhi ruang persalinan hari itu menjadi suara yang telah mereka tunggu lebih dari dua dekade. Bagi pasangan yang menikah di usia muda tersebut, momen itu bukan sekadar kelahiran dua buah hati, melainkan akhir dari perjalanan panjang yang dipenuhi doa, air mata, dan perjuangan tanpa henti.
"Kami tidak menyangka bisa seperti ini. Alhamdulillah, akhirnya Allah memberikan kepercayaan kepada kami," ucap Yusuf Santoso dengan suara lirih, Sabtu, 25 Juli 2026.
Selama bertahun-tahun, berbagai cara telah mereka tempuh. Dari berobat ke dokter, menjalani pengobatan alternatif, hingga mendatangi orang-orang yang diyakini mampu membantu. Namun, semua ikhtiar itu belum juga menghadirkan kabar yang mereka nantikan.
"Kami hampir pasrah. Bahkan sempat berpikir mungkin memang belum rezeki kami punya anak," kenangnya.
Harapan baru muncul dari cerita seorang tetangga di Sumenep, Pak Somidi, yang berhasil memperoleh keturunan setelah menjalani program bayi tabung bersama dokter spesialis kebidanan dan kandungan.
Morula IVF Surabaya, dr Benediktus Arifin, atau biasa dipanggil dr Benny. Kisah itu menjadi titik balik yang mengubah keraguan menjadi keyakinan.
"Kalau beliau [Pak Somidi] bisa, kenapa saya tidak mencoba? Dari situ saya mengajak istri untuk berangkat ke Surabaya," lanjutnya.
Keputusan itu bukan tanpa pengorbanan. Setiap kali menjalani pemeriksaan, mereka harus menempuh perjalanan sekitar empat jam dari Sumenep menuju kota pahlawan. Meski melelahkan, perjalanan tersebut terasa ringan karena membawa harapan yang selama ini nyaris padam.
Namun, perjuangan mereka ternyata jauh dari kata mudah.
dr Benny menjelaskan, saat awal pemeriksaan terhadap istri pasien menunjukkan kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) Feliza hanya 0,1. Padahal, kadar normal hormon yang menggambarkan cadangan sel telur perempuan umumnya berada pada kisaran 2 hingga 3.