Dhoho Night Carnival, Pawai Kostum Daur Ulang Peringati Hari Jadi Kota Kediri
- Nurma Ayu Kusuma Putri/VIVA Jatiim.
Kediri, VIVA Jatim – Riuh ramai dan desakan ribuan warga membanjiri sepanjang Jalan Dhoho Kota Kediri. Mereka hadir karena parade meriah setahun sekali, Dhoho Night Carnival, yang diadakan oleh Pemkot Kediri. Peringati Hari Jadi Kota ke-1.147, acara tersebut diadakan pada Minggu, 26 Juli 2026, malam.
Ikut memeriahkan di acara tersebut utusan presiden bidang pariwisata, Zita Anjani, dengan balutan kain tenun khas Kota Kediri yang menarik hatinya. Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati juga tampil dengan dandanan ala seorang putri.
Pawai dengan tema Symphony of Nature ini menyuguhkan barang-barang bekas, diubah menjadi karya yang mengesankan. Kostum-kostum yang dikenakan dari barang daur ulang, berpadu dengan kekayaan seni dan budaya.
Peserta carnival sebanyak 35, dari Kecamatan, Kabupaten, Instansi pemerintahan, universitas, Karang Taruna, bahkan Komunitas.
Vinanda dalam sambutannya menegaskan bahwa dengan tema tersebut, merupakan bukti bahwa menjaga bumi dan lingkungan dapat dimulai dari hal-hal kreatif dan menyenangkan.
"Dari material daur ulang, barang-barang yang mungkin dianggap tidak bernilai, namun di tangan para kreator berubah menjadi karya yang sangat memukau," papar perempuan akrab disapa Mbak Wali itu.
Rute perjalanan Dhoho Night Carnival tahun ini berbeda seperti sebelumnya. Vinanda Prameswati, Wali Kota Kediri menjelaskan
"Jika biasanya kita mulai dari alun-alun Kediri, malam ini kita mengawali perjalanan dari balai kota, jalan dhoho, menuju ke taman brantas," jelasnya.
Kemudian acara dibuka dengan letusan kembang api yang sangat meriah. Menariknya, Mbak Wali ikut berjalan sesuai rute sampai finish. Sambutan hangat dari ribuan warga menggema di jalan dhoho menambah suasana semakin meriah.
"Mbak Wali, Mbak Wali," teriak para warga dengan lambaian tangan dan senyum merekah mereka. Tidak mandek begitu saja, Wali Kota berusia 28 tahun itu juga mengiyakan untuk berselfie di gawai mereka.
Dimulai pukul 07.00 WIB, acara berakhir pada dini hari, 00.00 WIB. Meski begitu, antusias warga tetap menyala hingga akhir. Seperti Salsa, salah satu warga Kediri yang betah menonton sampai akhir.
"Beneran oke banget, setiap kontingen punya value sendiri. Acara gak main-main, kembang apinya gong banget. Cuma agak susah nontonnya, sih, karena numpuk. Yang paling membekas itu tim gudang garam," ungkapnya.