Mahasiswa Ubaya Ciptakan Robot Catur Berbasis AI, Mampu Bermain hingga Level Grandmaster
- Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim-Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya), Agung, berhasil mengembangkan robot catur pintar yang mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), lengan robot, dan sistem pemrosesan gambar (image processing).
Inovasi tersebut mampu menganalisis langkah lawan sekaligus menggerakkan bidak catur secara otomatis layaknya seorang pecatur profesional.
Karya mahasiswa peminatan Intelligent Robotics angkatan 2022 itu dipamerkan di Kampus Ubaya Tenggilis, Surabaya, Jumat, 31 Juli 2026.
Agung menjelaskan, sistem yang dikembangkannya memanfaatkan kamera untuk mendeteksi perpindahan bidak yang dilakukan lawan. Selanjutnya, AI menganalisis posisi papan catur sebelum mengirimkan perintah kepada lengan robot agar memindahkan bidak secara presisi.
"Jadi, cara kerjanya kurang lebih sama dengan atlet catur yang sebenarnya. Ada mata yang melihat, otak yang berpikir, dan lengan yang melakukan pergerakan," ujarnya.
Ia mengungkapkan ide tersebut berawal dari kegemarannya bermain catur. Melihat potensi robot UR-CB3 yang dimiliki Program Studi Teknik Elektro Ubaya, ia kemudian berinisiatif mengembangkan robot yang mampu bermain catur secara mandiri.
Untuk mewujudkan proyek tersebut, Agung mendapat bimbingan langsung dari Ketua Program Studi Teknik Elektro Ubaya, Hendi Wicaksono Agung Darminto, Ph.D., sekaligus memperoleh izin menggunakan robot UR-CB3 sebagai bagian dari tugas akhirnya.
Selama tiga bulan pertama, Agung menyusun roadmap pengembangan, mulai dari pemetaan kebutuhan teknologi hingga pemilihan sistem AI yang akan digunakan. Setelah itu, ia mendalami algoritma kecerdasan buatan dan teknologi robotika agar keduanya dapat terintegrasi secara optimal.
Tantangan terbesar muncul ketika harus menyelaraskan AI dengan lengan robot agar mampu menerjemahkan posisi bidak pada papan catur menjadi koordinat gerak yang sangat presisi.
"Saya berkali-kali menggunakan data dari internet, namun akurasinya masih kurang. Akhirnya, datanya saya kumpulkan dari sekitar 2.600 gambar yang saya ambil sendiri dari sudut yang disesuaikan dengan kamera yang digunakan," katanya.
Selanjutnya, Agung menghabiskan sekitar enam bulan untuk melatih sistem AI image processing hingga mampu mengenali posisi bidak secara mandiri. Secara keseluruhan, proses pengembangan inovasi tersebut memakan waktu sekitar satu setengah tahun.