National Hospital Surabaya Terapkan Adaptive DBS Berbasis AI untuk Parkinson

Dari kiri : Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital Surabaya, Dr dr Achmad Fahmi SpBS dan Dr Heri Subianto SpBS.
Sumber :
  • Mokhamad Dofir

Pada pasien Parkinson, salah satu target stimulasi yang paling banyak digunakan adalah subthalamic nucleus. Sedangkan target lainnya adalah globus pallidus internus.

img_title Untag Surabaya Soroti Pendidikan Humanis dan AI dalam SAIM Meet Up 2026

Ia menambahkan, National Hospital Surabaya telah menangani sekitar 90 pasien yang menjalani pemasangan DBS. Pasien tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

"Yang di kita pasang di National Hospital, karena kita memasang pasien dari Medan, dari Jakarta, dari mana-mana, kita pasang di sini sekitar 90 pasien," rincinya.

img_title Exzam.id Kenalkan AI Diagnostik Akademik untuk Dongkrak Hasil TKA

Sementara secara nasional, Fahmi memperkirakan terdapat sekitar 150 pasien yang telah mendapatkan terapi DBS.

Menurut dia, hasil terapi sangat dipengaruhi kondisi pasien saat tindakan dilakukan. Semakin dini terapi diberikan, hasil pengendalian gejala cenderung semakin baik.

img_title Antusias Siswa-siswi di Malang Belajar Google Gemini

"Semakin awal dipasang hasilnya semakin bagus. Tapi kalau sudah terlanjur berat, baru dipasang ya membaik, tapi tidak sebagus kalau pada saat awal-awal dipasang," katanya.

Fahmi menegaskan DBS bukan merupakan metode untuk menyembuhkan Parkinson. Teknologi tersebut digunakan untuk mengendalikan gejala sehingga pasien diharapkan dapat menjalani aktivitas dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Sementara itu, Dokter Bedah Saraf National Hospital Surabaya Dr Heri Subianto SpBS lebih lanjut mengatakan perkembangan Adaptive DBS membawa penanganan Parkinson menuju konsep personalized medicine.

Menurut Heri, teknologi harus tetap dipadukan dengan kolaborasi antara dokter, pasien, dan keluarga agar terapi yang diberikan dapat optimal.

"Teknologi itu akan membuat pasien menjadi ke arah personalized medicine. Artinya dokter, kolaborasi dokter, pasien dan supporting system keluarga yang mendukung, itu sangat diperlukan untuk memberikan terapi yang optimal buat pasien," kata Heri.

Ia menyampaikan, penggunaan DBS juga dapat diterapkan pada kondisi neurologis tertentu lainnya, termasuk epilepsi. Namun, area otak yang menjadi target stimulasi berbeda dengan Parkinson.

"Jadi kalau misalnya Parkinson itu targetnya di area otak itu namanya subthalamus nucleus, paling banyak itu. Yang kedua adalah globus pallidus internus. Kalau epilepsi targetnya berbeda," tandasnya.

Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang umumnya muncul pada usia lanjut, terutama di atas 60 tahun. Namun, kasus Parkinson juga dapat ditemukan pada pasien dengan usia lebih muda. Hingga kini, penyebab pasti Parkinson belum diketahui.

Halaman Selanjutnya
img_title