National Hospital Surabaya Terapkan Adaptive DBS Berbasis AI untuk Parkinson

Dari kiri : Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital Surabaya, Dr dr Achmad Fahmi SpBS dan Dr Heri Subianto SpBS.
Sumber :
  • Mokhamad Dofir

Surabaya, VIVA Jatim – National Hospital (NH) Surabaya menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi Adaptive Deep Brain Stimulation (DBS) berbasis artificial intelligence (AI) untuk membantu mengendalikan gejala pasien Parkinson.

img_title National Hospital Layani Konsultasi Kesehatan Gratis di Wilbex Vol 2 2026 Surabaya

Teknologi tersebut merupakan pengembangan dari metode DBS konvensional yang selama ini digunakan untuk memberikan stimulasi listrik pada area tertentu otak pasien Parkinson. Bedanya, Adaptive DBS memungkinkan stimulasi menyesuaikan kondisi aktivitas otak pasien secara otomatis.

Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital Surabaya, Dr dr Achmad Fahmi SpBS mengatakan, penerapan brain stimulation di Indonesia telah dilakukan sejak 2 Januari 2014. Seiring perkembangan teknologi, sistem DBS kini diperbarui dengan perangkat lunak yang memungkinkan stimulasi diberikan secara adaptif.

img_title Ratusan Siswa SMAN 1 Gresik Diedukasi Polres Gresik tentang Penggunaan AI

"Kalau dulu teknologinya konvensional, kita dokter yang mencari area mana yang paling bagus di otak untuk menstimulasi. Dengan perkembangan teknologi AI, kita kembangkan ada namanya Adaptive DBS," kata Fahmi kepada wartawan, Selasa, 4 Agustus 2026.

Menurut Fahmi, teknologi tersebut bukan merupakan perangkat DBS yang sepenuhnya baru. Sistem yang sudah digunakan pasien dapat diperbarui perangkat lunaknya sehingga memiliki kemampuan Adaptive DBS.

img_title Lenovo Luncurkan IdeaPad Slim 3i di Indonesia, Apa Saja Keunggulannya?

Pada DBS konvensional, dokter mengatur besaran stimulasi secara manual dan relatif konstan. Sementara dengan teknologi Adaptive DBS, sistem dapat membaca aktivitas otak dan menyesuaikan intensitas stimulasi sesuai kebutuhan.

"Ketika otak itu butuh stimulasi lebih maka dia akan naik sendiri voltasenya. Ketika otak itu tidak membutuhkan stimulasi yang berlebihan, voltasenya akan turun. Jadi adaptif menyesuaikan kondisi pasien," lanjutnya.

Kemampuan tersebut diharapkan dapat membuat kondisi pasien Parkinson lebih stabil. Pasalnya, pasien Parkinson sering mengalami kondisi on-off, yakni gejala membaik ketika obat bekerja dan kembali memburuk ketika efek obat berakhir.

"Jadi dengan Adaptive DBS ini harapannya lebih stabil terus, on terus. Tetap minum obat. Karena DBS itu bukan menyembuhkan Parkinson, tapi mengontrol gejalanya supaya gejalanya itu bagus," sebutnya.

Fahmi menjelaskan, perangkat DBS ditanamkan di dalam tubuh pasien dan bekerja dengan prinsip menyerupai alat pacu jantung. Namun, kabel pada DBS diarahkan menuju area tertentu di otak untuk memberikan stimulasi listrik.

Pada pasien Parkinson, salah satu target stimulasi yang paling banyak digunakan adalah subthalamic nucleus. Sedangkan target lainnya adalah globus pallidus internus.

Ia menambahkan, National Hospital Surabaya telah menangani sekitar 90 pasien yang menjalani pemasangan DBS. Pasien tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

"Yang di kita pasang di National Hospital, karena kita memasang pasien dari Medan, dari Jakarta, dari mana-mana, kita pasang di sini sekitar 90 pasien," rincinya.

Sementara secara nasional, Fahmi memperkirakan terdapat sekitar 150 pasien yang telah mendapatkan terapi DBS.

Menurut dia, hasil terapi sangat dipengaruhi kondisi pasien saat tindakan dilakukan. Semakin dini terapi diberikan, hasil pengendalian gejala cenderung semakin baik.

"Semakin awal dipasang hasilnya semakin bagus. Tapi kalau sudah terlanjur berat, baru dipasang ya membaik, tapi tidak sebagus kalau pada saat awal-awal dipasang," katanya.

Fahmi menegaskan DBS bukan merupakan metode untuk menyembuhkan Parkinson. Teknologi tersebut digunakan untuk mengendalikan gejala sehingga pasien diharapkan dapat menjalani aktivitas dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Sementara itu, Dokter Bedah Saraf National Hospital Surabaya Dr Heri Subianto SpBS lebih lanjut mengatakan perkembangan Adaptive DBS membawa penanganan Parkinson menuju konsep personalized medicine.

Menurut Heri, teknologi harus tetap dipadukan dengan kolaborasi antara dokter, pasien, dan keluarga agar terapi yang diberikan dapat optimal.

"Teknologi itu akan membuat pasien menjadi ke arah personalized medicine. Artinya dokter, kolaborasi dokter, pasien dan supporting system keluarga yang mendukung, itu sangat diperlukan untuk memberikan terapi yang optimal buat pasien," kata Heri.

Ia menyampaikan, penggunaan DBS juga dapat diterapkan pada kondisi neurologis tertentu lainnya, termasuk epilepsi. Namun, area otak yang menjadi target stimulasi berbeda dengan Parkinson.

"Jadi kalau misalnya Parkinson itu targetnya di area otak itu namanya subthalamus nucleus, paling banyak itu. Yang kedua adalah globus pallidus internus. Kalau epilepsi targetnya berbeda," tandasnya.

Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang umumnya muncul pada usia lanjut, terutama di atas 60 tahun. Namun, kasus Parkinson juga dapat ditemukan pada pasien dengan usia lebih muda. Hingga kini, penyebab pasti Parkinson belum diketahui.

Secara epidemiologi global, kejadian Parkinson cenderung meningkat seiring meningkatnya angka harapan hidup. Semakin banyak masyarakat yang mencapai usia lanjut, semakin besar pula populasi yang berisiko mengalami Parkinson. Indonesia sendiri belum memiliki data epidemiologi Parkinson yang pasti sehingga masih mengacu pada statistik global.

Gejala utama Parkinson dikenal dengan istilah TRAP, yakni tremor, rigidity, akinesia, dan postural imbalance. Tremor ditandai dengan gemetar, rigidity berupa kekakuan otot, akinesia berkaitan dengan kelambatan gerakan, sedangkan postural imbalance merupakan gangguan keseimbangan.

Selain empat gejala utama tersebut, Parkinson dapat disertai gejala lain seperti gangguan penciuman, gangguan menelan, suara yang mengecil, gangguan artikulasi, tulisan tangan menjadi semakin kecil atau micrographia, hingga gangguan tidur.

Pencegahan spesifik Parkinson hingga kini belum dapat ditentukan karena penyebab penyakit tersebut belum diketahui secara pasti. Namun, pola hidup sehat seperti olahraga teratur, mengonsumsi makanan dan minuman sehat, menghindari paparan zat kimia berbahaya, serta menghindari benturan pada kepala dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara umum.