Mahasiswa ITS Ciptakan Mesin Pembalut Otomatis Berbasis IoT, Beli Produk Sanitasi Lebih Privat

Salah satu rekan pengembang Sanitary On The Go Muhammad Fikri Kusumadinata (kiri) bersama Rajendra Bestian Putra.
Sumber :
  • Rachmad Fahrizal Tito

Surabaya, VIVA Jatim-Akses terhadap produk sanitasi perempuan di ruang publik masih menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari keterbatasan ketersediaan hingga proses pembelian yang belum sepenuhnya memperhatikan privasi pengguna.

img_title Pakar ITS Ungkap Risiko Kapal Ro-Ro, Ini Dugaan Faktor Virgo Transport 8 Terbalik

Menjawab persoalan tersebut, tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Sanitary On The Go (SOTG), mesin penjual pembalut otomatis berbasis sistem cerdas yang dirancang untuk memudahkan perempuan memperoleh produk sanitasi secara cepat, praktis, dan lebih privat.

Salah satu anggota tim pengembang SOTG, Muhammad Fikri Kusumadinata, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari kondisi akses produk sanitasi di ruang publik yang dinilai belum didukung sistem yang cepat dan mudah dijangkau.

img_title Patahan Surabaya-Waru Pernah Diteliti, Pakar ITS Ungkap Status Sebenarnya

“Melalui SOTG, kami menghadirkan sistem yang mempermudah pembelian produk sanitasi tanpa mengabaikan privasi,” ujar Fikri. Jumat, 14 Agustus 2026.

Mahasiswa Departemen Teknik Elektro Otomasi (DTEO), Fakultas Vokasi ITS itu menjelaskan, SOTG dirancang dengan mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT). Pengguna dapat memilih produk melalui layar sentuh sebelum melakukan pembayaran secara non-tunai.

img_title ITS Uji Alat Pendeteksi Gempa dan Rumah Tahan Guncangan, Bisa Dipasang di Hunian Warga

“Prosesnya dibuat sederhana agar pengguna dapat memperoleh produk dengan cepat,” katanya.

Secara teknis, SOTG dibangun menggunakan arsitektur yang menghubungkan antarmuka pengguna, server lokal, layanan cloud, serta perangkat keras pada mesin.

Seluruh komponen tersebut bekerja secara terintegrasi sehingga memungkinkan berbagai informasi, mulai dari transaksi, ketersediaan stok, hingga kondisi mesin, dipantau secara bersamaan dari jarak jauh.

Menurut Fikri, sistem tersebut menjadi salah satu keunggulan SOTG karena pengelola tidak harus melakukan pengecekan mesin secara langsung setiap saat.

Berdasarkan hasil pengujian, sistem menunjukkan performa yang relatif stabil dalam proses pendistribusian produk. Waktu pengeluaran pembalut berlangsung dalam hitungan detik dengan tingkat konsistensi yang baik.

“Selain itu, komunikasi data antarsubsistem juga menunjukkan latensi yang rendah,” ungkapnya.

Fikri menilai SOTG memiliki peluang untuk diterapkan di berbagai lokasi dengan tingkat mobilitas masyarakat yang tinggi. Tidak hanya lingkungan kampus atau sekolah, mesin tersebut berpotensi ditempatkan di fasilitas umum maupun kawasan perkantoran yang membutuhkan akses cepat terhadap produk sanitasi perempuan.

“Terutama pada lokasi yang memiliki mobilitas tinggi,” imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
img_title