Tiga Dekade Tragedi 1996, Penyintas Ungkap Memori Kelam dalam Buku Nyanyian Bawah Tanah
- Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim-Tiga dekade setelah gelombang penangkapan aktivis pada 1996, memori tentang masa kelam pergerakan mahasiswa kembali dibuka melalui buku Nyanyian Bawah Tanah.
Buku karya Trio Marpaung dan Syani tersebut mendokumentasikan pengalaman para aktivis dalam menghadapi penangkapan dan interogasi aparat menjelang Reformasi 1998. Buku itu dibedah dalam diskusi terbuka di Pendopo Jayengrono Cak Durasim, Surabaya, Jumat, 14 Agustus 2026.
Forum tersebut tidak hanya mengulas rekam sejarah perlawanan mahasiswa, tetapi juga membahas kemungkinan penyelesaian berbagai persoalan masa lalu melalui rekonsiliasi dan pendekatan restoratif.
Penulis sekaligus penyintas, Trio Marpaung, mengatakan buku tersebut disusun dengan menghadirkan pengalaman personal para penyintas sebagai pintu masuk untuk memahami rangkaian peristiwa politik yang terjadi kala itu.
“Babak pertama kami memakai metode in medias res. Kami sengaja menempatkan kisah kami di depan,” ujar Trio.
Menurutnya, buku tersebut kemudian menguraikan latar belakang lahirnya Partai Rakyat Demokratik (PRD) serta berbagai dinamika gerakan mahasiswa yang berkembang sebelum Reformasi.
Bagi Trio, pengalaman masa lalu tidak seharusnya terus menjadi beban yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia mengaku telah berdamai dengan pengalaman pahit tersebut dan membuka ruang rekonsiliasi.
“Kami sudah selesai dengan diri kami. Saya sudah memaafkan. Ayo kita bicarakan kepada masyarakat, kita rekonsiliasi. Kita selesaikan sejarah negara ini,” katanya.
Penulis lainnya, Syani, turut menceritakan pengalaman personal yang membawanya masuk ke dalam gerakan mahasiswa.
Sebagai bagian dari kelompok minoritas, ia mengaku pernah mengalami perlakuan rasis sejak masih bersekolah. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorongnya bergabung dengan barisan perlawanan mahasiswa.
“Saya tidak pernah dicina-cinakan. Saya tidak pernah dianggap sipit,” ungkap Syani.
Menurutnya, justru di tengah gerakan mahasiswa ia menemukan ruang yang menjunjung kesetaraan. Latar belakang etnis tidak menjadi persoalan dalam hubungan dengan rekan-rekan seperjuangannya.
“Saya tidak pernah dianggap berbeda oleh mereka,” bebernya.
Mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim, Eddy Supriyanto, menyambut positif penerbitan buku tersebut. Menurutnya, Nyanyian Bawah Tanah menjadi salah satu bentuk konsistensi para pejuang demokrasi dalam menjaga ingatan publik terhadap perjalanan sejarah bangsa.