Psikolog UNAIR Paparkan Dampak Kekerasan Seksual Keluarga terhadap Tumbuh Kembang Anak

Psikolog Unair Primatia Yogi.
Sumber :
  • Humas Unair

Surabaya, VIVA Jatim-Kasus kekerasan seksual terhadap anak yang melibatkan orang terdekat dalam lingkungan keluarga kembali menyoroti pentingnya perlindungan anak. Alih-alih menjadi tempat yang aman, keluarga dapat menjadi ruang yang meninggalkan luka ketika kepercayaan disalahgunakan oleh pihak yang seharusnya melindungi.

img_title Seniman Cilik Gresik Tuangkan Kisah Bullying di Pameran Catatan Visual

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Primatia Yogi Wulandari SPsi MSi Psikolog, memandang bahwa pelecehan seksual tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis anak. Namun juga mempengaruhi cara anak memandang dirinya, orang lain, hingga hubungan sosial di masa depan.

Primatia menjelaskan bahwa kedekatan hubungan keluarga tidak serta-merta menjamin keamanan bagi anak. Dalam banyak kasus, pelaku justru memanfaatkan relasi kuasa yang dimiliki terhadap korban.

img_title Frisian Flag dan Himpaudi Ajak Anak-anak Paud Surabaya Aktif Bermain dan Bergerak

“Dalam perspektif psikologi perkembangan, pelecehan seksual dalam keluarga menjadi hal yang sangat serius karena pelakunya adalah orang terdekat yang seharusnya menjadi sosok pelindung. Ketika kepercayaan itu dikhianati, yang terganggu bukan hanya emosi anak, tetapi juga proses perkembangannya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan usia dan otoritas antara orang dewasa dengan anak menciptakan ketimpangan kuasa yang dapat dimanfaatkan pelaku. Oleh karena itu, pendidikan mengenai tubuh, batasan privasi, dan persetujuan perlu dikenalkan sejak dini.

img_title AceKid Jadikan Wilbex 2026 Vol.2 Jangkau Pasar Jawa Timur

“Perlindungan anak bukan hanya mengajarkan mereka berhati-hati terhadap orang asing, tetapi juga membangun pemahaman bahwa setiap anak berhak menjaga batasan tubuhnya, sekalipun dengan orang yang dikenal,” jelasnya.

Menurutnya, respons setiap anak terhadap kekerasan seksual tidak dapat disamaratakan. Sebagian anak mungkin menunjukkan perubahan perilaku, sementara yang lain tampak baik-baik saja meskipun mengalami luka psikologis yang mendalam.

“Korban dapat mengalami rasa takut, malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan tidur dan berkonsentrasi. Namun, tidak semua anak memperlihatkan tanda yang sama. Karena itu, kita tidak bisa menilai berat atau ringannya dampak hanya dari perilaku yang tampak,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengalaman kekerasan seksual dalam keluarga dapat mempengaruhi kemampuan anak membangun hubungan sosial. Korban berpotensi mengalami trust issues, menarik diri dari lingkungan, hingga kesulitan menjalin relasi ketika memasuki usia remaja. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak tersebut dapat dipulihkan apabila anak memperoleh perlindungan dan pendampingan yang tepat.

Halaman Selanjutnya
img_title