Khofifah Dorong Kampung Produksi Kopiah di Gresik Jadi Desa Devisa
- Istimewa
Dan yang ketiga ketika sudah menjadi desa devisa, mereka juga akan mendapatkan akses market yang lebih luas bahkan untuk menembus pasar ekspor.
“Tadi saya tanya apa sudah ekspor produknya, ternyata sudah masuk Malaysia. Nah ini potensi untuk dikembangkan. Karena banyak negara yang lain yang juga menggunakan kopyah. Misalnya Pakistan, Afrika dan juga negara lain,” tegas Khofifah.
Ia juga mendukung sentra produksi kopyah ini untuk terus berkembang. Terlebih di Pemprov Jatim pada periode pertama Khofifah telah mengembangkan program OPOP yang sudah menjalin kerjasama dengan Islamic Development Bank.
“Kami bertemu dengan pimpinan IsDB, kita bersiap untuk membangun koneksitas pasar dengan negara-negara OKI. Nah itu antara lain pintu masuknya adalah LPEI,” pungkas Khofifah.
Di sisi lain, Rodiyah, salah satu pelaku usaha kopiah di kampung ini, menegaskan bahwa peak season untuk produksi kopiah di sini adalah pada bulan Ramadhan dan juga Idul Fitri.
“Kalau bulan puasa dan lebaran itu produksi di kampung ini bisa sampai ribuan kodi. Tapi kalau tidak peak season itu 20-30 kodi saja sudah alhamdulillah,” tegas Rodiyah.
Pemasaran dan pembukaan pemesanan dilakukan dengan saling berkomunikasi antar warga. Mereka yang mendapatkan order dengan jumlah besar pasti dibagi dengan warga lainnya. Sehingga terjalin nuansa kekeluargaan serta dalam rangka menjaga kontinuitas produksi.
“Jadi kita melayani pembuatan untuk banyak merk, tergantung pemesanan. Dan modelnya juga banyak, ada yang polosan hitam, ada pula yang coklat, berbordir dan lain-lain. Semua bisa sesuai pesanan atau custom,” ujar Rodiyah.
Sedangkan untuk bahan baku, yang masih impor adalah beludru untuk bahan kopiah hitam. Bahan tersebut harus dibeli dari negara gingseng Korea Selatan. Di luar itu sudah bisa dibeli di dalam negeri.
“Kami berharap ibu Khofifah bisa kembali menjadi Gubernur Jawa Timur dan membantu agar kampung produksi kopiah ini semakin berkembang,” pungkas Rodiyah.