Pelaku IKM di Kota Mojokerto Minta Pemerintah Proteksi Produk Lokal Buntut Tarif Impor AS

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari membuka FGD Dampak Kebijakan Impor AS
Sumber :
  • VIVA Jatim/M Lutfi Hermansyah

Mojokerto, VIVA Jatim – Kalangan pelaku industri kecil menengah (IKM) di Kota Mojokerto meminta pemerintah memproteksi produk lokal. Ini buntut dari kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang memberlakukan tarif impor sebesar 32% terhadap barang-barang dari Indonesia yang masuk ke negaranya. 

img_title IRGC: Amerika Serikat Terjebak Dua Kondisi Sulit

Kebijakan tersebut diprediksi akan berdampak langsung terhadap produk dalam negeri seperti elektronik, tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, minyak sawit, karet, furnitur, udang, hingga produk perikanan laut. Padahal, sektor-sektor ini selama ini menjadi mitra dagang AS. 

Kenaikan tarif impor baru dari AS terhadap produk indonesia berpotensi memicu serbuan barang-barang impor ke dalam negeri, terutama dari negara-negara seperti Cina dan Vietnam. Sehingga menjadi ancaman serius pelaku usaha domestik. 

img_title Klaim Trump Iran Kirim 20 Kapal Tanker Minyak ke Amerika

Kebijakan ini sontak menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha produk lokal meski bukan eksportir, tak terkecuali pelaku IKM di Kota Mojokerto.

Perajin alas kaki di Kota Mojokerto, Zakaria mengatakan, selama ini dirinya mampu menjual 600 pasang sepatu dan sandal per hari. Di mana, 90% pemasarannya dilakukan secara online melalui marketplace.

img_title PM Irak Tolak Ajakan Trump Mengirim Kapal ke Selat Horumus

Meningkatnya permintaan pasar tak lepas dari fasilitas promosi Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopukmperindag) Kota Mojokerto. 

“Omzet rata-rata per pasang Rp 80 ribu per hari,” katanya dalam Focus Group Discussion (FGD) terkait dampak kebijakan impor USA di sentra IKM Batik Kota Mojokerto, Sabtu, 6 April 2025.

FGD Dampak Kebijakan Impor AS di sentra IKM Batik Kota Mojokerto

Photo :
  • VIVA Jatim/M Lutfi Hermansyah

Zakaria memproduksi sepatu sneaker dan sandal selop di sebuah home industri di Jalan KH Nawawi, Kota Mojokerto. Produk alas kakinya didominasi motif batik. Alasanya, ingin menjadi pembeda di tengah gempuran barang-barang impor, terutama dari Cina dan Vietnam. Ditambah minim pesaing dari brand-brand lokal ternama.

“Kalau produk dari Cina dan Vietnam dominan sepatu running. Desain mereka bagus dan harga kopetitif. Kalau bersanging dengan mereka berat karna kuilitas lebih baik dan harga lebih murah,” ungkap Zakaria. 

Oleh karena itu, ia meminta pemerintah membendung masuknya barang impor dengan harga murah. Juga mendorong pemerintah menggelorakan bangga memakai produk lokal. Tentunya melalui berbagai terobosan program. 

Halaman Selanjutnya
img_title