Tuntut Regulasi Transportasi Online dan Hapus Grab Hemat, Ribuan Driver Ojol Akan Gelar Aksi di Surabaya

Demo Ojol di Surabaya
Sumber :
  • Viva Jatim/Mokhamad Dofir

Surabaya, VIVA Jatim-Sebanyak 3.000 pengemudi ojek online (ojol) dari berbagai wilayah Jawa Timur akan menggelar aksi demonstrasi nasional pada Senin, 20 Mei 2025 di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Aksi ini digagas oleh Perhimpunan Driver Online Indonesia (PDOI) dan Presidium Frontal Jatim. Mereka menuntut pemerintah agar segera menghadirkan regulasi khusus terkait transportasi online.

img_title Cak Sholeh Meninggal, Aktivis Ojol Kenang Jasa Almarhum Bela Tanpa Bayaran

Ketua PDOI sekaligus Presidium Frontal Jatim, Puji Waluyo mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk keresahan para pengemudi terhadap ketidakjelasan aturan yang mengatur transportasi online, baik dalam hal tarif, sistem kerja, maupun perlindungan hak pengemudi.

"Kami menuntut agar pemerintah segera mengesahkan RUU Transportasi Online, mengatur batas atas dan bawah tarif ojol, serta memperjelas sistem kerja pengantaran barang dan makanan. Selama ini, kami merasa tidak ada keberpihakan terhadap driver," ujar Puji, Selasa, 22 April 2025.

img_title Pemkot Surabaya Perkuat Perlindungan dan Pemberdayaan Ojol Perempuan

Salah satu isu utama yang menjadi pemantik aksi adalah hadirnya layanan Grab Hemat, yang mulai diberlakukan sejak Kamis, 10 April 2025. Menurut para driver, layanan ini justru menurunkan pendapatan secara signifikan, lantaran menawarkan tarif murah kepada penumpang namun tetap memberlakukan potongan besar kepada mitra pengemudi.

Puji menjelaskan, dalam sistem Grab Hemat, driver hanya menerima 80 persen dari tarif hemat, yang nilainya sudah rendah sejak awal. Selain itu, potongan dua ribu rupiah per orderan dan komisi 20 persen dari pihak aplikator membuat pendapatan bersih pengemudi semakin tergerus.

img_title Alumni Universitas Ciputra bagikan BBM Gratis dan Sebako Driver Ojol Perempuan

"Pendapatan kami sangat menurun. Mayoritas penumpang sekarang pilih Grab Hemat karena murah. Tapi kami yang menanggung bebannya. Kalau tidak ikut Grab Hemat, order sepi. Tapi kalau ikut, kami rugi. Ini jelas sangat merugikan driver,” tutur Puji.

Lebih lanjut, ia juga menyinggung bahwa janji manis dari aplikator saat awal pendaftaran tidak sesuai dengan realita di lapangan. Kondisi ini membuat para pengemudi kecewa dan semakin terdorong untuk turun ke jalan menyuarakan nasib mereka.

Aksi pada 20 Mei nanti akan menjadi aksi besar yang tidak hanya berlangsung di Surabaya, tapi juga direncanakan terjadi serentak di beberapa daerah di Indonesia. Para pengemudi berharap agar pemerintah benar-benar mendengar aspirasi mereka dan segera menyusun kebijakan yang adil, termasuk transparansi dalam potongan biaya, perlindungan kerja, dan standar tarif yang manusiawi.