Korban Penggelapan Penukaran Uang di Tulungagung Rugi Rp100 Juta Lapor Polisi
- Viva Jatim/Madchan Jazuli
Tulungagung, VIVA Jatim – Tiga korban penggelapan jasa penukaran uang akhirnya melaporkan terduga pelaku ke Polres Tulungagung. Ketiganya adalah Nia (28), Ika (26) serta Shelly (30) mengalami kerugian hampir Rp100 juta rupiah dari terduga pelaku DW (31) asal Kecamatan Campurdat Tulungagung.
Salah satu korban adalah Nia Lailatul Mu'arofah (28) mengalami kerugian sebesar Rp 67 juta. Nia mengaku kronologi awal memilih jasa penukaran uang pecahan untuk hari raya lancar sejak tahun 2023 silam. Pun juga di 2025 awal awal juga lancar.
"Cuma saya tidak pernah ketemu sama orangnya dimana barangnya selalu dititipkan ke El Zatta. Kemudian kalau tidak gitu biasanya dikirim lewat jasa (pengiriman)," ujar Nia Lailatul Mu'arofah ditemui di Pidum Satreskrim Polres Tulungagung, Kamis, 1 Mei 2025.
Nia mengatakan waktu awal tukar senilai 15 juta untuk dirinya sendiri. Akan tetapi terduga pelaku hanya memberikan melalui pengiriman uang pecahan baru sekitar 10 juta tidak ada sudah cair, dan sisanya belum cair.
"Jadi iming-imingnya jasa murah kalau ambil banyak kadang free jasa, kalau tidak itu hanya Rp5 ribu saja. Padahal di luar sana umumnya sekitar 16 ribuan," paparnya.
Perempuan asal Kedungwaru ini mengaku mengalami kerugian paling besar. Kerugian puluhan juta tersebut juga dari puluhan transaksi, karena apabila mengambil dalam jumlah banyak, akan sedikit murah harga jasa yang didapat.
"Kerugian saya sekitar Rp67 juta, itu sekitar dari 23 kali transaksi," keluhnya.
Perempuan berkacamata ini hanya berharap uang tersebut kembali. Akan tetapi jika tidak bisa, akan menempuh proses hukum supaya mempertanggungjawabkan perbuatan terduga pelaku.
"Harapan dari korban kalau bisa baik-baik diselesaikan uang kembali, kalau tidak ya diproses lebih lanjut," pungkasnya.
Lain Nia, lain lagi Ika (26) sebagai penyedia jasa penukaran uang pecahan skala besar. Dirinya mengaku korban dengan terduga pelaku yang sama, DW menukarkan uang ke Ika sebesar 20,5 juta.
Awal-awalnya DW lancar dengan mentransfer, namun dengan alasan yang muka, tidak membayar lunas pesanan uang pecahan. Sampai beberapa kali tidak bisa menepati hingga terkumpul puluhan juta yang belum terbayarkan.
"Terus sampai ada beberapa kali transaksi kurang lebih ada 4 kali transaksi. Sampai saat ini yang terakhir itu terkumpul 27 juta," papar Ika.