Kebijakan Gubernur Dedy Mulyadi terkait Didik Siswa Nakal di Militer, Begini Tanggapan Komnas HAM

Ketua Komnas HAM Atnike Nova Sigiro
Sumber :
  • Viva

Jakarta, VIVA JatimGubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengeluarkan kebijakan perihal siswa yang bermasalah agar dididik oleh militer. Hal itu mendapatkan tanggapan dari  Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Atnike Nova Sigiro. Ia mengatakan kebijakan tersebut perlu ditinjau ulang.

img_title Perdokmil Jatim Berkomitmen Berikan Layanan Medis Cepat kepada Masyarakat

“Sebetulnya itu bukan kewenangan TNI untuk melakukan civic education (pendidikan kewarganegaraan). Mungkin perlu ditinjau kembali rencana itu maksudnya apa,” ucap Atnike saat ditemui di Kantor Komnas HAM RI, Jakarta, Jumat.

Menurut dia, mengajak siswa untuk mengunjungi instansi atau lembaga tertentu dalam rangka mengajarkan cara kerja, tugas, dan fungsi instansi maupun lembaga tersebut sejatinya tidak menjadi masalah.

img_title PM Irak Tolak Ajakan Trump Mengirim Kapal ke Selat Horumus

“Sebagai pendidikan karier untuk anak-anak siswa mengetahui apa tugas TNI, apa tugas polisi, apa tugas Komnas HAM itu boleh saja,” katanya.

Namun, apabila siswa diminta mengikuti pendidikan tertentu, termasuk yang berhubungan dengan kemiliteran, kebijakan tersebut menjadi tidak tepat dan keliru. Apalagi, kata Atnike, pendidikan itu dilakukan sebagai sebuah bentuk hukuman.

img_title Oknum TNI Pelaku Pembobolan Ritel di Tulungagung Diserahkan ke Denpom Madiun untuk Proses Hukum

“Oh, iya, dong (keliru). Itu proses di luar hukum kalau tidak berdasarkan hukum pidana bagi anak di bawah umur,” ucap Ketua Komnas HAM.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menggulirkan rencana untuk "menyekolahkan" siswa bermasalah di Jabar agar dididik di barak militer mulai tanggal 2 Mei 2025.

Dedi Mulyadi mengatakan rencana tersebut merupakan pendidikan karakter yang akan mulai dijalankan di beberapa wilayah di Jawa Barat yang dianggap rawan, bekerja sama dengan TNI dan Polri. 

"Tidak harus langsung di 27 kabupaten/kota. Kita mulai dari daerah yang siap dan dianggap rawan terlebih dahulu, lalu bertahap," ujar Dedi dalam keterangan di Bandung, Minggu 27 April 2025.

Peserta program dipilih berdasarkan kesepakatan antara sekolah dan orang tua, dengan prioritas pada siswa yang sulit dibina atau terindikasi terlibat dalam pergaulan bebas maupun tindakan kriminal.

"Selama enam bulan, siswa akan dibina di barak dan tidak mengikuti sekolah formal. TNI yang akan menjemput langsung siswa ke rumah untuk dibina karakter dan perilakunya," kata Dedi. 

Halaman Selanjutnya
img_title