Festival Sinema Kita 2025 di Surabaya Angkat Isu Kemanusiaan di Suriah Lewat Film dan Buku

Pemutaran film dan bedah buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah.
Sumber :
  • Festival Sinema Kita (FSK) 2025

Surabaya, VIVA JatimFestival Sinema Kita (FSK) 2025 digelar di Balai Budaya, Komplek Balai Pemuda Surabaya, Minggu, 11 Mei 2025.

img_title Fraksi PKB Nilai Pidato Prabowo soal BUMN Cerminkan Kondisi BUMD Jatim

Acara yang mengusung tema “City and Us: Cerita Kota, Cerita Kita” ini mengajak publik untuk merayakan kota melalui sinema sebagai medium yang merekam perubahan, merefleksikan identitas, serta membangun pemahaman lintas generasi.

Salah satu program unggulan dalam FSK 2025 adalah pemutaran film dokumenter Road to Resilience dan bedah buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah, karya akademisi dan peneliti Dr. Noor Huda Ismail

img_title Ultras Malang Gandeng Arema FC Lagi, Siapkan Jersey Kasual Musim 2026/2027

Program ini menjadi sangat penting karena mengangkat isu kemanusiaan yang menyentuh, yaitu nasib perempuan dan anak-anak Indonesia yang terjebak di kamp pengungsian di Suriah.

Sebelumnya, buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah secara resmi diluncurkan bersama film dokumenter Road to Resilience di Jakarta pada akhir Februari 2025, dan dilanjutkan dengan pemutaran serta diskusi di empat kota: Bandung, Lampung, Surabaya, dan Semarang. 

img_title Polres Gresik Tangkap Dua Tersangka Curanmor, Motor Korban Dicuri saat Bertamu

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Dr. Noor Huda Ismail, sutradara film Road to Resilience Ridho Dwi Ristiyanto, dan Febri Ramdani, protagonis dalam film tersebut. 

Dalam paparannya, Noor Huda menyampaikan bahwa karya ini bertujuan untuk membuka kesadaran publik atas keberadaan ratusan warga negara Indonesia—terutama perempuan dan anak-anak—yang masih berada di kamp pengungsian akibat konflik Suriah.

"Kita tidak bicara soal benar atau salah. Ini soal kemanusiaan. Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka, itu yang menjadi fokus buku dan film ini," kata Noor Huda, yang juga merupakan penerima Visiting Fellow di RSIS, Nanyang Technological University, Singapura.

Melalui riset bertahun-tahun, Noor Huda menemukan fakta bahwa banyak masyarakat Jawa Timur yang masih berada di kamp pengungsian di Suriah. "Jawa Timur menjadi salah satu fokus kami. Sebagian besar mereka berasal dari sini," tambahnya. 

Pada 2014, dengan maraknya media sosial, banyak warga Indonesia yang berkeinginan untuk pergi ke Suriah, namun ketika perang meletus, banyak perempuan dan anak-anak yang terjebak di sana.

Noor Huda menegaskan bahwa konflik Suriah tidak hanya soal perang. Banyak perempuan dan anak-anak yang terlahir di sana dan harus diselamatkan. 

Halaman Selanjutnya
img_title