Ribuan Warga Tulungagung Berbondong-bondong Saksikan Karnval Sound Horeg
- VIVA Jatim/Madchan Jazuli
Tulungagung, VIVA Jatim – Karnaval Desa Sumberejo Kulon Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung berlangsung semarak, pada Sabtu, 26 Juli 2025. Ribuan warga berbondong-bondong menyaksikan sound horeg yang sebelumnya dibatasi oleh Polres Tulungagung agar tidak melebihi 8 subwofer.
Salah satu warga, Putri (20) mengaku tidak terlalu mempermasalahkan adanya sound horeg. Ia beranggapan yang penting acara berjalan dengan kondusif dan tidak merugikan warga sekitar yang dilewati karnaval.
"Yang penting saat kegiatan lancar, aman, terus tidak merugikan warg sekitar. Kan ada biasanya sound horeg kayak ada kaca yang pecah atau kayak bagaimana itu," ujar Putri sembari duduk-duduk tak jauh dari lokasi.
Ia mengikuti sekils bahwa tahun ini diberlakukan penertiban atau pembatasan mulai dari segi dimensi maupun cara penyajian karnaval. Ia berharap semua pihak bisa mematuhi aturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah demi kenyamanan bersama.
"Semoga saja tertib. Kebetulan hari ini saya baru datang, jadi belum lihat, tapi pas itu kan sudah ada sound system terparkir gede tapi tidak tahu nanti suaranya bagaimana," ujarnya.
Mahasiswa semester tiga yang berkuliah di Tulungagung ini mengaku sebenarnya tidak terlalu suka karnaval dengan sound horeg. Hanya saja, ia merasa gabut akhirnya ikut bersama orang tua melihat karnaval.
"Enggak sering sih, kebetulan ini kedua kali. Gak suka-suka banget tapi kalau ada pengen tahu saja," imbuhnya.
Warga berbondong-bondong melihat sound horeg di Sumberejo Kulon Tulungagung
- VIVA Jatim/Madchan Jazuli
Disinggung tentang peraturan yang lebih ketat tentang sound horeg ini, Putri merasa semua senang bagi yang menikmati. Baik warga maupun pemilik sound Horeg yang laku untuk disewa dalam karnaval tersebut.
"Penyelenggara soundnya senang bahagia, kan bahagia semua dari masyarakat tidak dirugikan. Kalau saya setuju-setuju saja, yang peting semua tertib," selorohnya.
PKL Senang, Dagangan Naik 100 Persen
Sementara terpisah, di sebelah barat lokasi berjajar lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) menjajakan berbagai makanan hingga minuman. Salah satunya adalah Ratih, penjual tahu goreng. Ia meskipun baru tahun ini ikut berjualan merasakan dampaknya.
Penjualan yang biasa normal mengumpulkan laba bersih atau keuntungan 50 ribu rupiah. Kali ini rata-rata bisa meraup Rp100 ribu di sekali lokasi tontonan karnaval.