Gapasdap: Prediksi BMKG Soal Gempa Megathrust Bali-NTB Guncang Stabilitas Ekonomi

Rakhmatika Ardianto
Sumber :
  • VIVA Jatim/Mokhamad Dofir

Surabaya, VIVA Jatim – Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) soal potensi gempa megathrust magnitudo 8,5 di selatan Bali dan Lombok menuai sorotan. Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) menilai pernyataan itu bisa berdampak pada stabilitas ekonomi.

img_title Prakiraan Cuaca Jatim Hari Ini, Selasa, 14 Juli 2026 Berdasarkan BMKG

Sebagaimana diberitakan, ahli seismologi Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Pepen Supendi mengungkapkan adanya potensi gempa megathrust di laut selatan Bali, NTB hingga NTT. Zona subduksi itu diprediksi mampu memicu gempa hingga magnitudo 8,5.

Pepen meminta masyarakat pesisir selatan mulai waspada dan menyiapkan diri, sebab wilayah itu kerap melepaskan gempa kecil.

img_title Prakiraan Cuaca Jatim Hari Ini, Senin, 13 Juli 2026 Berdasarkan BMKG

Ketua Bidang Usaha dan Pentarifan DPP Gapasdap Rakhmatika Ardianto menegaskan informasi kebencanaan seharusnya tidak menimbulkan kepanikan. Menurutnya, komunikasi harus disampaikan secara menenangkan dan edukatif.

“Berita yang menakutkan seperti ini, tanpa diiringi edukasi yang memadai, berpotensi besar mengganggu stabilitas ekonomi dan psikologis masyarakat,” ujarnya saat berada di Surabaya, Sabtu, 6 Agustus 2025.

img_title Prakiraan Cuaca Jatim Hari Ini, Minggu, 12 Juli 2026 Berdasarkan BMKG

Gapasdap menilai ketakutan berlebihan bisa menghambat aktivitas ekonomi dan pariwisata, khususnya di Bali dan Lombok yang sangat bergantung pada sektor wisata. Rakhmatika pun menyarankan BMKG lebih baik memberi edukasi dan arahan konkret ketimbang sekadar peringatan yang memicu keresahan publik.

Ia mendorong penguatan sistem peringatan dini, pemerataan alat deteksi, serta simulasi mitigasi rutin bagi masyarakat dan sektor industri.

“Peningkatan akurasi dan kecepatan sistem peringatan dini gempa dan tsunami adalah kunci. Sistem ini harus mampu memberikan informasi yang valid dan tepat waktu agar masyarakat memiliki cukup waktu untuk melakukan evakuasi,” tegasnya.

Selain itu, Gapasdap meminta koordinasi lebih solid antara BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah. Rakhmatika juga menyinggung akurasi prediksi cuaca yang kerap meleset.

“Jika prediksi curah hujan saja masih sering meleset, maka perbaikan fundamental pada sistem prediksi harus menjadi prioritas utama. Karena akurasi data adalah modal utama untuk membangun kepercayaan publik,” pungkasnya.