Alvi Mutilasi Pacar Jadi Ratusan Potong, Polisi Beberkan Pandangan Ilmiahnya
- M Lutfi Hermansyah/Viva Jatim
Mojokerto, VIVA Jatim – Kasus pembunuhan disertai mutilasi yang sebagian potongan tubuh korban ditemukan di jurang Pacet, Kabupaten Mojokerto, pada Sabtu, 6 September 2025, masih menyisakan pertanyaan. Kenapa tersangka Alvi Maulana atau AM (24 tahun) tega memotong tubuh pacarnya, Tiara Angelina Saraswati atau TAS (25), sampai ratusan potong.
Kepala Satreskrim Polres Mojokerto AKP Fauzy Pratama menjelaskan, bila mengacu pada hasil penyidikan, terdapat perbedaan antara kasus mutilasi yang dilakukan Alvi dengan kasus mutilasi pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada psikologi tersangka.
Pada umumnya, papar Fauzy, pelaku mutilasi melakukan aksinya karena emosi yang tak terkendali. Sehingga membunuh korban tidaklah cukup. Tersangka baru puas dan emosinya bisa reda setelah memotong-motong tubuh korbannya.
Tapi, lanjut Fauzy, dalam kasus mutilasi TAS, tersangka memotong tubuh korban hingga ratusan potong karena ingin menghilangkan jejak dan barang bukti. Secara psikologis, Fauzy berpendapat bahwa karakter yang dilakukan tersangka adalah tindakan dehumanisasi terhadap korban. Yakni menyangkal sisi kemanusiaan penuh pada orang lain, dalam konteks ini adalah korban.
Pandangan itu jika dianalisis dari pendekatan dehumanisasi Philip Zimbardo dan Herbert Kelman. Nama yang pertama adalah profesor bidang psikologi yang dikenal karena eksperimen penjara di Stanford. Sedangkan Kelman adalah profesor psikologi yang pendapatnya tentang dehumanisasi jadi salah satu rujukan penting.
"Kondisi psikologis pelaku yang menggambarkan konsep dehumanization (dehumanisasi) tersebut,” ujar pria lulusan Universitas Glasgow jurusan kriminologi itu.
Selain itu, lanjut Fauzy, perbutan Alvi juga telah memenuhi aspek teori anomie yang dikembangkan sosiolog Prancis, Emile Durkheim. Teori anomie Durkheim menjelaskan keadaan tanpa norma atau normlessness. Aturan moral dan sosial yang biasanya mengikat individu menjadi lemah atau tidak lagi menjadi relevan.
Setelah memutilasi, Alvi mengalami kondisi tekanan psikologis yang sangat tinggi, syok dan stres berat. "Sehingga secara sadar atau tidak sadar, pelaku menekan atau bahkan menghilangkan rasa kemanusiaan, nilai moril dan nilai agama yang ada pada dirinya (ketika memutilasi korban),” ungkap Fauzy.
Seperti diberitakan, Alvi adalah pria perantauan asal Desa Aek Paing, Rantau Utara, Labuhanbatu, Sumut. Ia berpacaran dengan TAS sejak kuliah di Universitas Trunojoyo Madura. Setelah lulus, keduanya tinggal di kos di Lidah Wetan, Lakarsantri, Kota Surabaya.