Total Kerugian akibat Kerusuhan di Jawa Timur sebesar Rp256 Miliar
- Viva Jatim/M Dhofir
Surabaya, VIVA Jatim – Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) Irjen Pol Nanang Avianto menyebut bahwa kerusuhan di beberapa daerah di Jatim pada akhir Agustus 2025 lalu menyebabkan timbulnya kerugian secara materi sekitar Rp256 miliar.
Kerugian tersebut dihitung dari kerusakan fasilitas umum akibat ulah kelompok perusuh yang terjadi di sedikitnya 10 kabupaten/kota di Jatim. Temuan menonjol ialah di Kabupaten Sidoarjo, Jember, Malang, dan Kediri.
Dari pengungkapan kasus tersebut yang ditangani Polda Jatim dan Polres jajaran, Nanang mengatakan ada 997 orang diamankan. Rinciannya, 582 orang dewasa 415 lainnya anak di bawah umur.
Dari jumlah itu, Nanang mengatakan sebanyak 682 orang sudah dipulangkan dan 315 orang menjalani proses hukum. "315 orang menjalani proses hukum,” kata Nanang saat konferensi pers di Mapolda Jatim di Surabaya, Kamis, 18 September 2025.
Mereka yang anak di bawah umur diserahkan langsung ke orang tua mereka. Kata Nanang, hampir semua orang tua tidak mengetahui aksi anak mereka.
"Ini sangat disayangkan sekali. Hal-hal yang tentu mengecewakan daripada orang tuanya karena melihat anaknya terlibat peristiwa-peristiwa ini,” tandasnya.
Polda Jatim Ungkap Kerusuhan di Sidoarjo saat demo.
- Mokhamad Dofir/Viva Jatim
Mereka yang ditetapkan tersangka dijerat Pasal 187 KUHP, Pasal 363 KUHP, Pasal 212 KUHP, kemudian Pasal 170 KUHP, Kemudian Pasal 1 Undang-undang Darurat, Pasal 28 Ayat (3) dan Pasal 45A Ayat (3) Undang-undang ITE.
Dari kerusuhan itu, menurut Nanang, unjuk rasa yang seharusnya menjadi ruang penyampaian pendapat, telah bergeser menjadi tindakan kriminalitas.
"Sehingga mengarah kepada ancaman terhadap jiwa, benda dan kegiatan-kegiatan masyarakat banyak yang dirugikan,” ucapnya.
Akibatnya, jelas Nanang, sebanyak 111 warga sipil mengalami luka-luka. Sementara dari pihak TNI sebanyak 12 personel dirawat karena luka-luka saat menangani kerusuhan. Dari pihak kepolisian, sebanyak 105 anggota terluka.
“Kalau kita lihat di sini ya memang harus terjadi korban pada saat kita melakukan kegiatan-kegiatan untuk meredakan. Di sini dari masyarakat sendiri ada kurang lebih 111 orang ini. Namun sudah rawat jalan dan sudah kembali,” kata Nanang.