Polda Jatim Kumpulkan DNA Keluarga Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
- Mokhamad Dofir/Viva Jatim
Sidoarjo, VIVA Jatim – Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Jawa Timur mulai mengumpulkan sampel DNA dari keluarga korban yang belum ditemukan dalam tragedi ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Polisi M Khusnan mengatakan, pengambilan sampel dilakukan terhadap keluarga inti yang melapor ke Posko Ante Mortem.
“Hari ini kami mulai kumpulkan DNA dari keluarga dekat. Pengambilan dilakukan melalui swab mukosa mulut untuk proses identifikasi,” ucapnya.
Khusnan menyebut, mukosa mulut diambil dari orang tua atau saudara kandung korban. Data ini kemudian menjadi pembanding terhadap DNA korban meninggal yang sulit diidentifikasi.
Selain membuka posko Ante Mortem, Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Jawa Timur juga membuat grup WhatsApp khusus keluarga korban.
Melalui grup ini, komunikasi dan penyampaian informasi perkembangan identifikasi korban dapat lebih cepat dan efektif. “Dengan DNA keluarga kandung, tim DVI bisa membuat profil pembanding untuk mencocokkan jenazah korban,” tutupnya.
Sebelumnya, tim SAR gabungan mulai menggunakan alat berat untuk mengangkat material reruntuhan bangunan di Ponpes Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, pada operasi pencarian dan evakuasi korban hari keempat, Kamis, 2 Oktober 2025.
Keputusan menggunakan alat berat dilakukan setelah bermusyawarah dengan keluarga korban. Sebab, hingga batas akhir golden time (3 x 24 jam) pencarian korban, tak ada tanda-tanda kehidupan diterima tim dari korban yang terjebak di bawah reruntuhan.
Alat berat yang sejak hari pertama pencarian disiagakan mulai memasuki bangunan yang ambruk sejak pukul 11.30 WIB. Lokasi sekitar disterilkan. Awak media yang meliput juga diminta tidak mendekat karena faktor keamanan. Ada 5 crane di lokasi dan 30 truk pengangkut material yang digunakan.
"Hari ini evakuasi korban menggunakan alat berat. Kesepakatan ini sudah disetujui keluarga korban," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto.
Ia menyampaikan, dalam rangka mendukung kelancaran evakuasi, area reruntuhan musala telah disterilisasi termasuk gedung di sekitar lokasi dikosongkan dan dilakukan penyemprotan guna meminimalisasi aroma yang tidak sedap.
"Komandan Kodim menjamin keamanan tim di lapangan, sehingga evakuasi bisa lebih lancar," terangnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, meski evakuasi dilakukan menggunakan alat berat, pihaknya berharap masih ada korban selamat yang ditemukan.
"Semua berharap masih ada yang bisa diselamatkan meski evakuasi akan terus berjalan sampai semua korban ditemukan, dilanjutkan tahap recovery dan rekonstruksi," kata dia.
Suharyanto menyebut, data BNPB mencatat ada sekitar 59 orang dilaporkan hilang. Meski belum dipastikan seluruhnya tertimbun, pencarian terus dikebut dengan melibatkan 219 personel gabungan.
"Proses evakuasi diperkuat lima unit alat berat, 30 ambulans, 30 dump truck, hingga 300 kantong jenazah yang disiapkan untuk menghadapi kondisi terburuk," tegasnya.