Polisi Masih Kesulitan Identifikasi Jenazah Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

Kabid DVI Pusdokkes Mabes Polri, Kombes Pol dr Wahyu Hidajati
Sumber :
  • VIVA Jatim/Mokhamad Dofir

Surabaya, VIVA Jatim – Proses identifikasi jenazah korban runtuhnya Musala Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, masih menemui banyak hambatan. Hingga Jumat, 3 Oktober 2025 petang, Tim Disaster Victim Identification (DVI) dari Polda Jatim dan Mabes Polri belum berhasil memastikan identitas para korban yang sudah diterima di RS Bhayangkara Surabaya.

img_title Menko Pangan Semangati Para Santri Al Khoziny Sidoarjo: Cobaan untuk Angkat Derajat

Kabid DVI Pusdokkes Mabes Polri, Kombes Pol dr Wahyu Hidajati mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih berupaya mengumpulkan data pembanding dari keluarga.

“Sampai saat ini jenazah yang diterima belum teridentifikasi karena sedang proses mengumpulkan DNA, mengumpulkan data-data pembanding, mana tahu ada foto-foto khas dari anak-anak yang dilaporkan hilang ini. Tapi sampai sekarang belum ada, jadi kita sedang mengumpulkan proses. Jadi untuk keluarga mohon bersabar,” ujar Wahyu kepada wartawan.

img_title Haikal Masih Ingin Balik ke Pondok, Ponpes Al Khoziny Jamin Beasiswa Sampai S2

Menurutnya, langkah terakhir yang dilakukan adalah mengambil sampel DNA baik dari keluarga maupun dari jenazah untuk dicocokkan.

“Kalau sudah DNA itu terbukti match berarti itu memang sudah tidak terbantahkan lagi. Jadi kita menuju ke sana sambil berkejaran dengan waktu karena jenazah kan semakin lama semakin membusuk,” jelasnya.

img_title 58 Jenazah Korban Bangunan Ponpes Al-Khoziny Ambruk Teridentifikasi

Wahyu menambahkan, proses identifikasi dari jenazah itu terkendala oleh kondisi korban yang mayoritas berusia belasan tahun. Selain jarinya sudah mulai rusak karena proses pembusukan juga tidak memiliki tanda pembeda pada pertumbuhan gigi mereka.

"Nah gigi rata-rata umur 12-15 [tahun] itu pertumbuhannya hampir sama Ciri-ciri khusus sampai saat ini belum didapatkan, misalnya ada yang copot satu atau apa itu belum ada yang khas dari laporan keluarga," lanjutnya.

Jenazah korban tragedi Ponpes Al Khoziny Buduran di RS Bhayangkara.

Photo :
  • Mokhamad Dofir/Viva Jatim

Kesulitan lain kata dia, adalah dari pakaian korban yang sama. Para korban satu sama lain mengenakan seragam pondok pesantren tanpa nama.

"Karena kan ini anak pondok seragamnya kan pokoknya putih semua. Lagi shalat Asar ya, pokoknya putih semua. Terus pada pakai sarung juga. Tidak ada identitas apapun. Jadi rata-rata ya sama gitu,” ucapnya.

Kemudian, ciri-ciri khusus yang biasanya dijadikan acuan, seperti tanda lahir, tato, atau kelainan fisik, juga sulit ditemukan. Sebab, banyak keluarga korban yang tidak hafal detail fisik anak mereka.

Halaman Selanjutnya
img_title