Sidik Jari Rusak dan Baju Sama Jadi Kendala Identifikasi Korban Tragedi Al Khoziny
- Mokhamad Dofir/Viva Jatim
Surabaya, VIVA Jatim – Tim DVI Polda Jatim menemukan kendala identifikasi jenazah korban tragedi Ponpes Al Khoziny Buduran, Sidoarjo. Sidik jari rata-rata korban yang dievakuasi rusak. Sudah begitu penanda lainnya, seperti baju yang dipakai, masing-masing korban sama.
Kesemrawutan data sebetulnya sudah terjadi sejak pendataan korban. Bisa dimaklumi karena saat itu semua dalam kondisi panik dan kalut. Ada santri yang pulang bersama anggota keluarganya setelah kejadian, tapi tidak melapor sehingga nama santri dimaksud masuk dalam data korban.
Karena itu pemutakhiran data terus dilakukan dan data jumlah korban bersifat sementara. Kepala Polda Jatim Irjen Nanang Avianto mengatakan, pendataan korban tragedi Ponpes Al Khoziny dibagi 3 klaster. Yakni klaster santri, pengurus, dan klaster pekerja bangunan.
Menurut Nanang, metode pengklasteran penting dilakukan agar petugas mudah melacak keberadaan penghuni pesantren. Dari hasil pendataan awal, sebagian besar baru mencakup santri dan pengurus pondok. Sedangkan pekerja proses identifikasi sedang berjalan.
Karena dari proses pendataan seperti itu, maka proses identifikasi korban juga harus dilakukan secara hati-hati dan prosedural.
Masalahnya, pada proses identifikasi ini tim DVI Polda Jatim juga menemukan kendala. Sebab, kondisi jenazah-jenazah korban yang dievakuasi pada Jumat kemarin rata-rata sudah rusak.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jatim Kombes M Khusnan menjelaskan, ada lima jenazah yang dievakuasi Jumat kemarin pada umumnya sidik jari mereka sudah rusak, akibat proses alamiah karena mereka sudah meninggal lebih dari tiga hari.
Karena itu, data tambahan seperti foto korban saat mengenakan pakaian atau aksesoris serupa dengan kondisi ketika ditemukan tak bernyawa. Selain itu, data antemortem lain yang bisa membantu ialah melalui pemeriksaan gigi dan sidik jari.
Sayangnya, dalam kasus ini kondisi jasad korban sudah rusak. "Namun perlu diketahui bahwa karena sudah lebih dari tiga hari, kondisi sidik jari pada umumnya sudah mengalami kerusakan alamiah. Sehingga sulit digunakan untuk pembandingan," lanjutnya.
Kabid DVI Pusdokkes Mabes Polri Kombes Wahyu Hidajati mengatakan, identifikasi dengan gigi korban juga sulit karena rata-rata mereka berusia belasan tahun. Pun demikian dengan data tambahan lain seperti pakaian yang digunakan sebelum peristiwa bangunan ambruk terjadi.