Update: Korban Meninggal Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo 66 Orang
- Ahaddiini HM/VIVA Jatim
Sidoarjo, VIVA Jatim – Jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi Ponpes Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, terus bertambah. Hingga operasi SAR hari kedelapan pada Senin, 6 Oktober 2025, korban meninggal sebanyak 66 orang.
"Total korban gedung runtuh Al Khoziny dari hari pertama hingga hari kedelapan evakuasi berjumlah 170 orang. Korban selamat sebanyak 104 orang dan korban meninggal dunia sebanyak 66 orang dengan 7 body part," kata Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit.
Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyatakan bahwa evakuasi akan terus berlanjut sampai dipastikan tidak ada korban yang tersisa dan diyakini reruntuhan bisa dipisahkan serta dapat dideteksi secara keseluruhan.
"Evakuasi dinyatakan selesai setelah tempat kejadian benar-benar clear, semua reruntuhan bisa dipisahkan, dan dipastikan tidak ada korban lagi," ucapnya di hadapan wartawan.
Ia menegaskan bahwa Basarnas memiliki ketentuan standar operasi selama tujuh hari dengan perpanjangan tiga hari.
"Saat ini sampai hari kedelapan sejak bangunan roboh, operasi masih berlangsung 24 jam penuh dengan melibatkan berbagai unsur tim Basarnas gabungan dengan melibatkan unsur basarnas TNI, Polri, BNPB, BPBD, PMI, pemadam kebakaran hingga relawan berbagai instansi terkait," terangnya.
Dia menyampaikan, meski operasi SAR nantinya selesai, kegiatan penanganan pascabencana tetap berlanjut di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan instansi terkait lainnya sesuai dengan tugas masing-masing.
"Ini akan berlanjut bukan berarti kegiatan terkait kejadian ini berhenti. Masih ada tindakan lanjutan yang akan dilakukan setelah operasi SAR dinyatakan tuntas,” ujarnya.
Syafii juga mengingatkan agar hal mengenai body part tidak menjadi perdebatan di masyarakat.
"Basarnas tidak pernah mempermasalahkan jumlah korban, melainkan hanya melaporkan setiap manusia yang terevakuasi dari reruntuhan bangunan. Yang kita data adalah setiap korban yang berhasil dievakuasi, baik utuh maupun berupa bagian tubuh. Kami tidak untuk memperdebatkan masalah body part," ujarnya.
Ia menambahkan, potongan tubuh korban yang dievakuasi dari pesantren tetap akan dicatat, lalu proses identifikasi dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. "Bagi kami, penyelamatan satu nyawa sama dengan menyelamatkan aset negara yang tidak bisa dihitung," ungkapnya.