Mas Dhito Pimpin Apel Hari Santri: Stimulan Ponpes-Guru Madin Kediri Tetap Jalan

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana memimpin Apel Hari Santri di Stadion Canda Bhirawa, Kecamatan Pare
Sumber :
  • Prokopim Pemkab Kediri

Kediri, VIVA Jatim – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana memastikan program-program prioritas akan tetap berjalan seperti pemberian bantuan dana stimulan ke pondok pesantren hingga guru madrasah diniyah atau Madin.

img_title Saat Bupati Kediri Mas Dhito Sapa Murid Baru di Hari Pertama MPLS

Hal itu disampaikan Mas Dhito, sapaan akrabnya saat memimpin Apel Hari Santri di Stadion Canda Bhirawa, Kecamatan Pare, pada Rabu, 22 Oktober 2025. 

Kendati pemerintah daerah saat ini meski dihadapkan pada pengurangan transfer kas daerah dari pemerintah pusat, Mas Dhito tetap berkomitmen melanjutkan program keagamaan yang selama ini telah berjalan. 

img_title Pemkab Kediri dan DPRD Sepakati Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025

Ia mengatakan, alokasi bantuan stimulan bagi pondok pesantren akan terjadi penyesuaian dari rencana awal, mengingat adanya efisiensi anggaran.

"Di data kami ada 51 pondok, untuk tahun ini kita upayakan 10 pondok. Rencana awal 20, tapi karena ada pengurangan transfer kas daerah mau tidak mau kami harus melakukan penyesuaian di tingkat kabupaten," ujar Mas Dhito.

img_title Tingkatkan Kemandirian Fiskal, Mas Dhito Dorong Inovasi Genjot PAD

Mas Dhito juga memastikan program bantuan insentif atau bisyaroh bagi guru madin, pun juga guru agama non muslim yang telah dimulai tahun 2021 akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.

"Akan terus berlanjut dan ditargetkan bisa mencover 15.000 guru," imbuhnya.

Data Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, penerima bisyaroh hingga saat ini telah mencapai 9.500 guru dan masing-masing juga dicover BPJS Ketenagakerjaan. Selain bisyaroh, tahun 2025 ini juga ada program beasiswa bagi santri/hafidz untuk 140 penerima.

Bupati yang gemar vespa ini menjelaskan awal diperingati Hari Santri pada 22 Oktober didasarkan pada resolusi jihad yang diinisiasi KH Hasyim Asy'ari pada 1945 di Surabaya. 

Saat ini, kata dia, jihad bisa terjemahkan pada banyak hal, mulai perjuangan yang telah dilakukan oleh para guru dan Masyayikh. 

"Maka hari ini bersama dengan seluruh pondok pesantren dan para santri-santri yang ada di Kabupaten (Kediri) kita jaga kabupaten ini tetap menjadi kabupaten yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur," tegasnya.

Setidaknya terdapat 193 pondok pesantren di Kabupaten Kediri dengan santri sebanyak 578.000 orang. Tiap pondok pesantren memiliki peran masing-masing dalam membangun moral dan karakter santri.