Gawat! 15 Siswa SMP di Surabaya Positif Narkotika Usia Dites Urine BNN
- Nur Faishal/Viva Jatim
Surabaya, VIVA Jatim – Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Timur menggelar tes urine secara acak kepada sejumlah siswa SMP di Jalan Kunti Kota Surabaya pada Kamis, 13 November 2025. Hasilnya, sebanyak urine 15 siswa positif mengandung unsur narkotika.
Kepala BNNP Jawa Timur Brigjen Pol Budi Mulyanto menjelaskan, ada sebanyak 50 siswa yang dites urine. Dari jumlah itu, 15 siswa SMP positif narkotika dan mereka diketahui pengguna aktif. “Ini suatu keprihatina yang harus kita rumuskan bersama [penanganannya],” katanya kepada wartawan, Jumat, 14 November 2025.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga sudah menerima informasi soal adanya 15 siswa SMP di Kota Pahlawan yang diketahui jadi pengguna narkotika. Untuk menindaklanjuti temuan itu, dia mengaku akan memastikan dulu posisi mereka secara hukum.
Jika ke-15 siswa tersebut adalah pengguna, maka akan direhabilitasi penuh. “Tetapi kalau dia terbukti sebagai pengedar, maka kita lakukan rehabilitasi. Kita pulihkan kembali, kita kuatkan kembali agar anak ini punya semangat lagi untuk menjadi orang yang baik,” ujarnya.
Eri menekankan, bahwa masalah narkotika yang menyasar para pelajar adalah tanggung jawab bersama, terutama orang tua. Menurutnya, peran orang tua menjadi garda terdepan dalam sikap dan perilaku seorang anak.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
- Viva Jatim/M Dhofir
Menurut Eri, belasan siswa SMP yang diketahui positif narkotika itu adalah korban salah asuhan. Karena itu, tidak bisa serta merta membebankan tanggung jawab tersebut kepada guru di sekolah. “Yang terdekat [dengan anak] adalah orang tua," tegasnya.
Jalan Kunti yang menjadi sasaran tes urine BNN sejak lama dikenal lokasi rawan peredaran narkotika. Sudah beberapa kali petugas kepolisian juga melakukan penggerebekan di sana. Eri mengatakan, pengawasan di Jalan Kunti tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu singkat.
Karena itu, ia meminta komitmen dan konsistensi dari semua pihak, mulai dari aparat hingga warga. "Ini tidak bisa sehari, dua hari, karena [Jalan Kunti] ini sudah tempat yang lama [jadi tempat peredaran narkotika]. Maka dibutuhkan konsisten dan komitmen dari kita semuanya, baik dari kepolisian, BNN, Pemerintah Kota Surabaya, dan warga," papar Eri.