Ketum PBNU Gus Yahya: di Depan Netanyahu Saya Nyatakan Bela Palestina
- Istimewa
Surabaya, VIVA Jatim – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya diminta mundur oleh pengurus syuriah NU. Salah satu alasannya karena mengundang akademisi yang diketahui pro Zionis Israel, Peter Berkowitz, dalam Akademi Kader NU beberapa waktu lalu.
“Saya itu pada tahun 2018 sudah pernah pergi ke Israel. Saya bertemu [PM Israel] Netanyahu, saya bertemu dengan Presiden Israel, saya bertemu dengan berbagai elemen di sana, dan berbagai forum. Tahun 2018, tapi tahun 2021, di muktamar, cabang-cabang dan PWNU memilih saya [sebagai Ketum PBNU],” katanya usai pertemuan PBNU-PWNU di Surabaya, Minggu, 23 November 2025.
Gus Yahya memaparkan kenapa tetap terpilih sebagai Ketum PBNU karena ketika berkunjung ke Israel ia membawa misi untuk membela Israel. “Dengan terang-terangan dan tegas di berbagai forum di Yerussalem pada waktu itu, bahkan di depan Netanyahu dalam pertemuan itu, ‘bahwa saya datang ke sini demi Palestina’,” ujarnya.
Sampai saat ini, Gus Yahya mengaku masih konsisten dengan sikapnya untuk membela Palestina, bukan bersama-sama dengan Israel seperti kabar yang berhembus. “Saya tidak akan pernah berhenti dengan posisi itu, apa pun yang terjadi,” tegasnya.
Seperti diketahui, Gus Yahya digoyang pemakzulan dari pengurus syuriah NU. Berdasarkan Risalah Rapat Harian Syuriah PBNU pada Kamis, 20 November 2025, yang dihadiri 37 orang dari total 53 Pengurus Harian Syuriah. Pertemuan tersebut menghasilkan lima poin.
Pertama ialah terkait kehadiran akademisi pro Zionis Israel yang diundang PBNU sebagai narasumber dalam Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) yang menurut syuriah merupakan pelanggaran berat. “Serta bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama,” isi risalah tersebut.
Karena itu, poin kelima, rapat harian syuriah meminta agar Gus Yahya mengundurkan diri dari jabatan sebagai Ketum PBNU paling lambat tiga hari sejak diputuskan. “Jika dalam waktu 3 (tiga) hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriah PBNU memutuskan memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.”
Kesepakatan jajaran pengurus syuriah tersebut langsung direspons Gus Yahya dengan mengumpulkan pimpinan PWNU se Indonesia di Hotel Samator Surabaya, Sabtu malam hingga Minggu dini hari, 22-23 November 2025. Bersama Gus Yahya, hadir di antaranya Waketum PBNU Amin Said Husni. Sementara Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul tidak hadir. Setelah pertemuan, Gus Yahya menyatakan tidak akan mundur.