Nagara Institute-Akbar Faisal Uncensored Gelar Diskusi Kupas Peran Danantara di Surabaya

Nagara Institute-Akbar Faisal Uncensored diskusi bersama
Sumber :
  • Mokhamad Dofir

Emil menegaskan bahwa Jawa Timur adalah salah satu penopang utama ekonomi nasional, menyumbang hampir seperenam PDB Indonesia dan menjadi pintu logistik wilayah timur. Industri kata dia, menjadi penggerak utama pertumbuhan, sementara pertanian tetap menjadi produsen terbesar berbagai komoditas nasional.

img_title Politikus Akbar Faizal Sebut Bakal Ada Parpol Keluar Koalisi, Benarkah?

Dia menekankan kebutuhan diversifikasi ekonomi serta kekhawatiran dividen BUMN dari Jatim tidak kembali dalam bentuk investasi. Oleh sebab itu, dirinya berharap Danantara bisa memastikan investasi negara tetap menguatkan sektor-sektor strategis di Jawa Timur.

"Karena perekonomian kita tidak lagi sepenuhnya mengandalkan sumber daya alam, maka kita berharap bahwa tetap ada portofolio investasi yang kemudian bisa menjadi sebuah daya tarik bagi Danantara. Kalau kita lihat BUMN. Kami cuma berhak satu, jangan sampai dividen yang ditarik balik kemudian dibuat menjadi agnostik terhadap BUMN yang menyumbang dividennya," ujar Emil.

img_title Pakar Administrasi Pertanyakan Aturan soal Piutang Negara, Ini Alasannya

Setelah itu, Profesor Imron Mawardi menekankan soal gagasan transformasi BUMN sudah dirancang sejak akhir 1990-an melalui blueprint pembentukan 10 holding, namun lama tertunda karena pergantian pemerintahan.

Dia menjelaskan, Danantara terdiri dari unit aset manajemen dan investasi adalah kelanjutan dari rencana lama itu dan menandai fase profitisasi sebelum kemungkinan privatisasi BUMN yang tidak lagi strategis.

img_title Keluarga Korban Kerusuhan 1998 Meminta Negara Segera Selesaikan  Kasus HAM Berat

Profesor Imron pun mengingatkan, negara tetap harus menguasai sektor-sektor vital, merujuk pada hadis tentang kepemilikan bersama atas sumber daya penting. Menurutnya, bagi Jawa Timur, Danantara bisa menjadi solusi keterbatasan anggaran daerah. 

"Keterbatasan-keterbatasan pemerintah daerah dalam anggaran ini menjadikan memang pembangunan itu berjalan lambat," ucapnya.

Giliran terakhir, Pakar Ekonomi Ferry Latuhihin menilai akar persoalan BUMN dan munculnya lembaga seperti Danantara berasal dari sejarah panjang campur tangan negara yang tidak efisien sejak era nasionalisasi yang diperparah oleh minimnya tenaga profesional dan kecenderungan negara hadir di sektor yang tidak perlu.

Dia menegaskan negara telah gagal sebagai agent of development, sehingga reformasi fiskal dan pengurangan peran negara menjadi penting. Dalam konteks Danantara, Ferry mengkritik lembaga ini karena dianggap salah posisi yang semestinya menjadi badan reparasi, bukan badan investasi.

Halaman Selanjutnya
img_title