Dindik Jatim dan FJPI Dorong Pelajar Bijak dalam Bermedia Sosial

Diskusi Interaktif di Kantor Dindik Jatim.
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, VIVA Jatim-Sekretaris Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur Suhartono mengatakan Dindik mendorong para pelajar bijak dalam bermedia sosial. Mereka perlu diedukasi untuk melawan hoaks dengan cara memperkaya literasi cek fakta.

img_title Sambut HUT RI ke-81, Dindik Jatim Ajak Murid Jemput Sejarah ke Rumah Veteran

Dindik Jatim dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menggelar Diskusi Interaktif "Cerdas Bermedia: Lawan Hoaks dengan Literasi Cek Fakta", di Aula Sabha Nugraha Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Rabu, 3 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti 100 pelajar beserta guru pendamping, dari wilayah Surabaya, Sidoarjo, Krian dan sekitarnya.

Suhartono menegaskan, kolaborasi Dindik dan FJPI Jawa Timur bisa ditindaklanjuti dengan program-program yang mendukung generasi muda dalam memanfaatkan media sosial dengan bijak. Ia optimis, jika edukasi literasi cek fakta ini diberikan sejak dini akan bisa mendukung terwujudnya Generasi Emas 2045.

img_title Siswa SMA Negeri 1 Bojonegoro Raih Gelar Duta SMA Nasional 2026

“Kegiatan diskusi interaktif ini sangat bermanfaat dalam mengatasi permasalahan berita-berita hoaks di tengah gencarnya informasi yang masuk di era digital saat ini," ujarnya dalam keterangan tertulisnya.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Akhsaniyah mengatakan generasi muda, khususnya remaja dan perempuan, kini menjadi kelompok paling rentan terhadap tsunami informasi dan ancaman misinformasi. Akhsaniyah menekankan bahwa media sosial tak hanya memengaruhi pola konsumsi informasi, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental.

img_title Jatim Dominasi FIKSI 2026, 24 Tim Lolos ke Nasional Terbanyak se-Indonesia

Tekanan sosial, standar kecantikan, hingga paparan konten negatif menjadikan perempuan sebagai salah satu kelompok yang paling terdampak.

“Hoaks dapat memicu kecemasan, memecah belah masyarakat, bahkan menghambat pengambilan keputusan rasional. Karena itu, literasi cek fakta harus menjadi gaya hidup digital,” ujarnya.

Sedangkan Sekjen FJPI Tri Ambarwatie mengungkapkan remaja adalah pengguna internet paling aktif sekaligus target terbesar penyebaran hoaks. Mengutip data APJII dan Mafindo, ia menyebutkan bahwa 54 persen remaja pernah menyebarkan informasi tanpa verifikasi.

“Konten palsu seperti pengumuman sekolah libur, video tawuran lama, hingga edit-an yang memicu perundungan seringkali viral karena emosi dan minimnya kemampuan verifikasi,” jelasnya.

Ia menuturkan, hoaks terus berkembang karena algoritma media sosial mendorong konten pemicu emosi. Sementara masyarakat terbiasa membagikan informasi tanpa pengecekan. Kominfo sendiri mencatat lebih dari 11.000 hoaks berhasil dibersihkan sepanjang 2023.

Dalam upaya menangkal penyebaran informasi palsu, peserta dibekali metode lateral reading, pemanfaatan kanal resmi cek fakta serta lima langkah anti-hoaks. Di antaranya, jeda sebelum membagikan informasi, cek sumbernya, uji gambar, verifikasi melalui situs resmi, dan membandingkan dengan media kredibel.

Tri Ambarwatie menegaskan generasi muda memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam membendung arus misinformasi.

“Satu klik verifikasi dapat menyelamatkan banyak orang dari kepanikan,” tutupnya.