Puluhan Relawan TIK Trenggalek Sukses Helat Workshop AI, Dorong Komunikasi Adaptif
- Viva Jatim/Madchan Jazuli
Trenggalek, VIVA Jatim – Relawan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (RTIK) Kabupaten Trenggalek bekerjasama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Trenggalek sukses menyelenggarakan workshop bertajuk "Transformasi Komunikasi Publik Berbasis AI". Bertempat di Gedung PPNI Trenggalek, acara ini dihadiri oleh anggota Relawan TIK dan pegiat informasi digital daerah.
Ketua Relawan TIK Trenggalek, Trigus Dodik Susilo menegaskan pentingnya acara ini sebagai langkah strategis masayarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi. Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli, Abid Famasya Abdillah, M.Kom, seorang praktisi dan peneliti AI yang juga menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) di Trust Medis serta dirinya sendiri.
"Kegiatan ini adalah bentuk fasilitasi dari Kominfo kepada Relawan TIK untuk upgrade kapasitas. Mengingat saat ini Artificial Intelligence (AI) sedang menjadi tren, para relawan harus mengetahui ilmunya langsung dari ahlinya," terang Trigus Dodik Susilo, Jum'at, 19 Desember 2025.
Senada dengan hal tersebut, Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Trenggalek, Arief Setiawan menerangkan pentingnya posisi masyarakat dalam menyikapi gelombang teknologi baru.
Arief mengaku saat AI sudah menjadi tren, dan mau tidak mau kita harus memahami, apakah hanya akan jadi penonton atau pengguna yang baik.
" Acara ini merupakan bentuk dukungan kami kepada Relawan TIK Trenggalek, meskipun tidak banyak, tapi kami harap bisa mendukung gerakan sadar TIK di Trenggalek," ungkap Arief.
Sementara, Perubahan Pola Komunikasi di Era, salah satu pemateri Abid Famasya Abdillah menjelaskan bahwa kehadiran AI, khususnya Large Language Models (LLM), bukan sekadar kanal baru, melainkan "aktor baru" dalam komunikasi. Ia menyoroti perubahan perilaku publik dari distrust and verify menjadi trust then verify.
"Di era AI, informasi tersaji secara terstruktur, ringkas, dan netral, sehingga menciptakan fluency-based trust. Publik cenderung percaya karena informasinya mudah dicerna, namun ini menimbulkan risiko ilusi kompetensi di mana pengetahuan hanya melebar di permukaan tapi tidak mendalam," jelas Abid.
Abid juga menyinggung perilaku Generasi Z yang memiliki "Information Sensibility" berbeda, di mana mereka sering kali lebih mempercayai kolom komentar dan influencer dibandingkan verifikasi fakta mendalam secara linier.