UINSA Dorong Siswa Pahami Potensi Desanya untuk Bahan Pembelajaran

Dosen UINSA Munawir.
Sumber :
  • Istimewa

Malang, VIVA Jatim-Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) mendorong siswa di Malang bisa memahami potensi desanya. Harapannya mereka dapat mengolah potensi tersebut sebagai sumber pembelajaran sekaligus ruang pengabdian.

img_title Raih Adiwiyata Mandiri, Menteri Jumhur Nilai SMAN 1 Gresik Layak Jadi Teladan Nasional

UINSA menggelar pelatihan Project Based Learning (PJBL), di MAN 2 Kota Malang, beberapa waktu lalu. Pelatihan tersebut bukan hanya diberikan di dalam kelas. Tetapi juga mengajak siswa lebih dekat dengan masyarakat sekitar.

Dosen UINSA, Munawir mengatakan pendidikan tidak harus selalu dari teks. Menurutnya siswa harus diberikan pendekatan pembelajaran kontekstual berbasis masyarakat.

img_title Sebanyak 618.479 Murid Baru di Jatim Ikuti MPLS Mulai 13 Juli, Dindik Larang Perpeloncoan

“Pendidikan tidak selalu harus berangkat dari buku teks”, ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 24 Desember 2025.

Munawir tidak hanya berbicara tentang konsep PjBL. Tetapi juga mengajak peserta merefleksikan peran pelajar sebagai bagian dari ekosistem sosial yang hidup dan terus berubah.

img_title Khofifah Sebut Proses Penjaringan Siswa Sekolah Rakyat di Jatim Berjalan Lancar

Dalam kesempatan ini, siswa diajak mengidentifikasi persoalan dan peluang di sekitar mereka, mulai dari potensi ekonomi kreatif, lingkungan, hingga aktivitas sosial masyarakat. Menurutnya, dari sana pembelajaran dirancang tidak lagi bersifat abstrak, melainkan berangkat dari realitas yang mereka temui setiap hari.

"Proyek belajar menjadi jembatan antara ruang kelas dan kehidupan nyata," katanya.

Ia menambahkan PjBL memberi ruang bagi siswa untuk belajar secara utuh. Mereka tidak hanya mengasah pengetahuan, tetapi juga membangun kepekaan sosial, kemampuan bekerja sama, serta keberanian mengambil inisiatif.

"Ketika siswa belajar dari desa dan untuk desa, maka pendidikan menjadi relevan dan bermakna,” ujarnya.

Selama pelatihan, peserta tampak antusias. Mereka terlibat aktif dalam kerja kelompok, mempresentasikan gagasan, serta saling menanggapi ide satu sama lain.

Mereka belajar bahwa sebuah proyek tidak selalu harus besar, tetapi harus berpijak pada kebutuhan dan potensi masyarakat. Dari proses itu, muncul kesadaran bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

Kepala Sekolah MAN 2 Kota Malang, Samsudin menilai pelatihan ini sebagai bagian dari transformasi pembelajaran madrasah. Pendekatan berbasis proyek menurutnya mampu memperkuat karakter siswa sekaligus menyiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan.

Ia menuturkan Madrasah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan kepedulian sosial. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, termasuk UIN Sunan Ampel Surabaya menjadi nilai penting dari kegiatan ini.

Halaman Selanjutnya
img_title