Fraksi PDIP Ingatkan Pemprov Jatim Tidak Lengah Ancaman Sebaran Super Flu
- VIVA Jatim/A Toriq A
Surabaya, Viva Jatim-Ketua Fraksi PDIP DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pratama, mendorong Pemprov Jatim melalui Dinas Kesehatan untuk tidak lengah atas ancaman super flu atau infeksi influenza A (H3N2) subclade K ke Indonesia. Ia menegaskan, kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci utama dalam menekan dampak penyebaran penyakit tersebut.
“Ini bukan isu biasa. Super flu menular cepat dan gejalanya mirip flu biasa. Kalau terlambat, dampaknya serius,” kata Wara Renny, Senin 5 Januari 2025.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, kasus Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) masih terus dipantau melalui sistem surveilans nasional. Kemenkes menekankan pentingnya deteksi dini mengingat virus influenza memiliki potensi mutasi yang tinggi dan dapat memberikan tekanan besar pada fasilitas layanan kesehatan.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus super flu yang tersebar di delapan provinsi di Indonesia. Jatim menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan dan Jawa Barat, serta beberapa provinsi lainnya.
Menurut Wara Sundari, Jatim memiliki risiko yang cukup besar karena tingginya mobilitas antar wilayah, kepadatan penduduk, serta banyaknya pintu masuk, mulai dari bandara hingga pelabuhan.
“Jatim ini wilayah strategis. Kalau tidak siap, efeknya bisa meluas,” ujarnya.
Ia mendorong Pemprov Jatim segera mengaktifkan status kewaspadaan dini daerah, termasuk membentuk Satuan Tugas Super Flu lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
“Data kesehatan kabupaten dan kota harus terintegrasi. Tidak boleh jalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa penanganan super flu harus mengacu pada pola yang telah terbukti efektif saat menghadapi pandemi Covid-19, yakni pendekatan promotif, preventif, dan kuratif secara seimbang.
Dalam aspek promotif, ia meminta Pemprov Jatim menggencarkan edukasi publik sejak dini. Sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu kembali diperkuat, mulai dari etika batuk dan bersin, penggunaan masker saat sakit, hingga kebiasaan mencuci tangan.
“Edukasi jangan menunggu kasus meledak. Ini pengalaman saat Covid. Kesadaran publik adalah benteng pertama,” ujarnya.
Pada langkah preventif, pihaknya mendorong optimalisasi pencegahan berbasis komunitas. Puskesmas, kader kesehatan, hingga Posyandu diminta aktif memantau gejala flu di masyarakat, terutama di sekolah, pesantren, dan fasilitas publik dengan kepadatan tinggi.