Jagal dan Pedagang RPH Pegirian Demo Lagi, Ancam Mogok Sampai Batal Relokasi

Demonstrasi di Surabaya
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, VIVA Jatim-Ratusan jagal dan pedagang daging sapi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian kembali turun ke jalan. Mereka menggelar aksi unjuk rasa di Balai Kota Surabaya, Selasa, 13 Januari 2026, sambil mengancam akan terus mogok kerja hingga rencana relokasi RPH Pegirian ke Tambak Oso Wilangun (TOW) dibatalkan.

img_title Puluhan Massa Demo Polda dan Kejati Jatim Minta Usut Kasus Jampidsus

Aksi ini dipimpin Koordinator Jagal dan Pedagang Daging Sapi se-Kota Surabaya, Abdullah Mansyur. Ia menegaskan, mogok kerja sudah dimulai sejak sehari sebelumnya sebagai bentuk tekanan kepada Pemerintah Kota Surabaya.

"Ini mogok. Dari kemarin sampai hari ini masih mogok kerja. Ini alarm terhadap stabilitas ekonomi. Kami akan melakukan mogok sampai tuntutan kami dipenuhi," tegas Mansyur.

img_title Polisi Lepas 14 Peserta Aksi dan Tetapkan 4 Tersangka Demo di Grahadi

Menurutnya, dampak mogok sudah mulai terasa. Ia mengklaim peredaran daging sapi di Surabaya nyaris terhenti karena para jagal dan pedagang memilih menghentikan aktivitas.

"Kami pastikan di Kota Surabaya tidak akan ada peredaran daging sapi. Silakan cek di pasar-pasar, tidak ada daging sapi yang beredar," ujarnya. 

img_title Eri Cahyadi Akui Proyek Drainase Bikin Surabaya Banjir

Mansyur menyebut, massa ingin bertemu langsung dengan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk menyampaikan aspirasi. Jika tidak mendapat respons, ancaman mogok bakal berlangsung seterusnya.

"Kami siap mogok satu bulan, dua bulan, bahkan satu tahun, sampai tuntutan kami benar-benar dipenuhi,” katanya.

Adapun tuntutan utama para jagal dan pedagang adalah pencabutan surat kebijakan relokasi RPH Pegirian ke Tambak Oso Wilangun. Mereka juga meminta Pemkot membatalkan surat edaran pendaftaran jagal yang dinilai memaksa proses pemindahan.

Dalam surat edaran tersebut, kata Mansyur, relokasi direncanakan berlaku hingga setelah Idul Fitri, dengan konsekuensi RPH Pegirian tidak lagi beroperasi.

"Kami menolak ada batas waktu. Artinya kami menolak untuk dipindah dari Pegirian ke tempat baru," tandasnya.

Sementara itu, Pemkot Surabaya tetap mengoperasikan RPH Tambak Oso Wilangun secara paralel dengan RPH Pegirian. Kebijakan ini justru memicu penolakan semakin keras dari para jagal dan pedagang.

"Kami tetap akan melakukan aksi-aksi demonstrasi dan mogok kerja. Ini bentuk keseriusan para jagal dan pedagang daging sapi di Surabaya," pungkas Mansyur.