Marak Kepala Daerah Di-OTT KPK, Ketum MUI: Kadang Didorong Gaya Hidup Istri

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Anwar Iskandar.
Sumber :
  • Madchan Jazuli/Viva Jatim

Kediri, VIVA Jatim – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar atau Gus War membeberkan bahwa dorongan keluarga yang ingin bergaya hidup mewah kadang jadi penyulut seseorang berbuat korupsi. Padahal, gaya hidup yang diinginkan acap kali tak sebanding dengan pendapatan.

img_title Dukung Fatwa MUI Jatim, Asosiasi Minta Vape Legal Dibedakan dengan Penyalahgunaan Narkoba

Hal itu disampaikan Gus War saat ditanya wartawan soal maraknya kepala daerah yang terjerat korupsi. Terbaru yakni Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Wali Kota Madiun Maidi dan Bupati Pati Sudewo.

Menurut Gus War, ada dua pemicu utama tindakan korupsi dilakukan oleh pejabat, termasuk kepala daerah. Yakni karena tuntutan gaya hidup dan faktor keterpaksaan. Faktor gaya hidup bisa atas dorongan sendiri atau orang terdekatnya, seperti keluarga.

img_title Sugiri Sancoko Bupati Ponorogo Nonaktif Dituntut 7 Tahun Penjara

"Kadang-kadang juga istrinya yang mendorong-dorong untuk bergaya hidup sosialita yang mewah. Padahal penghasilannya sedikit, sehingga korupsi," kata Gus War di Kediri, Kamis, 22 Januari 2026.

Tuntutan gaya hidup, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Al Amien Kediri itu, sangat berbahaya karena untuk memenuhinya biasanya tidak sebanding dengan penghasilan. Sehingga pejabat kemudian mengambil langkah singkat untuk memenuhi itu, yakni korupsi.

img_title Blusukan Jelang Muktamar ke 35, Gus Salam Mengaku Sudah Galang Dukungan 22 Pengurus Wilayah NU

Faktor kedua ialah keterpaksaan. Biasanya, kata dia, itu berkaitan dengan modal politik yang dikeluarkan untuk mendapatkan jabatan tertentu, termasuk menjadi kepala daerah.

Ia menggambarkan, gaji dan tunjangan menjadi kepala daerah selama satu periode tidak akan cukup untuk mengembalikan modal miliaran rupiah. Akhirnya, jalan koruptif dilakukan, seperti jual beli jabatan.

"Ingin jadi carik sekian, jadi lurah sekian, jadi itu ada nilainya. Itu terpaksa, ya, terpaksa [akhirnya melakukan korupsi]," imbuh Wakil Rais Aam PBNU itu.

Karena itu, ulama yang pernah mondok di Pondok Pesantren Lirboyo itu mengimbau kepada seluruh pejabat publik agar senantiasa berhati-hati dalam menjalankan amanah.

"Imbauan saya, ya, tentu hati-hatilah. Menjadi pejabat hati-hati," pesan Gus War.

Ia mengingatkan bahwa dampak dari penangkapan oleh pihak berwajib bukan hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga meninggalkan beban moral dan rasa malu bagi istri serta anak-anak yang masih menempuh pendidikan.

Halaman Selanjutnya
img_title