Ternyata Ribuan Burung Migrasi dari Rusia-Cina di Kediri-Tulungagung tak Memakan Padi
- Ahmad David Kurnia Putra
Kediri, VIVA Jatim-Banyak masyarakat yang belum tahu adanya burung migrasi dari bumi belahan utara ke Kediri, Tulungagung dan Trenggalek di musim dingin. Terlebih anggapan burung tersebut parasit, namun faktanya tidak mengganggu tanaman padi, justru memakan serangga di sekitar persawahan.
Hal itu dibenarkan oleh Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, BKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra. Kawanan burung tersebut berada di sawah mulai pagi hingga sore hari. Selain di sawah, terpantau juga ada di Pantai Cengkrong Trenggalek.
"Kalau untuk mengganggu spesies yang lain itu tidak. karena makanannya itu berupa serangga, cacing kecil, seperti itu di area persawahan. Tidak ada kompetisi mencari makanan dengan jenis-jenis lokal," ujar Ahmad David Kurnia Putra, Sabtu, 24 Januari 2026.
Om Dev, sapaan akrab pria asal Tuban ini memaparkan migrasi burung dari belahan bumi utara ke Kediri dan Tulungagung ternyata merupakan kegiatan rutin. Sehingga sebelumnya BKSDA menggandeng Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UIN SATU Tulungagung melakukan pengamatan ke kawanan burung migrasi rutin setiap tahun di seluruh Indonesia.
"Maksudnya seluruh burung migran yang ada di belahan bumi Utara akan migrasi ke seluruh kawasan di Indonesia. Itu mungkin setiap tahun mulai dari sekitar bulan Oktober sampai Maret nanti," bebernya.
Pria yang berkarir di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sejak tahun 2009 sebagai Polisi Kehutanan di Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Maluku Utara ini mengaku belum menghitung jumlah kawanan burung migrasi ke wilayahnya.
Selama dua tahun terakhir BKSDA sudah melakukan pengamatan burung migrasi di Tulungagung. Setidaknya ada tujuh jenis burung yaitu cerek kalung kecil (Charadrius Dubius), terik asia (Glareola).
Lalu, kicuit kerbau (Motacilla Tschutschensis), burung trinil (Actitis Hypoleuscos). Kemudian Maldivarum) dan burung layang-layang asia (Hirundo Rustica), trinil semak (Triga Glaeola), cerek kernyut (Pluvialis Fulva).
"Kami belum menghitung semuanya tapi yang pasti ada kami pernah menghitung Burung Terik Asia yang ada di persawahan Desa Jatimulyo. Kalau tidak salah di Tulungagung itu sekitar 5.000-an, 5.000-an individu. Itu baru satu petak sawah saja belum sawah-sawah lainnya di sekitar Tulungagung sampai Kediri," jelasnya.