Kolaborasi Ayah-Anak, Ketika Arsitektur dan Imajinasi Bertemu di Pameran Lukisan
- VIVA Jatim/Tofan Bram Kumara
Sidoarjo, VIVA Jatim – Rumah yang biasanya identik dengan kerapian dan larangan mencoret dinding, justru disulap menjadi ruang pameran seni. Melalui pameran tunggal keduanya, Samurai Jalu (12) dan Andy Rahman bertajuk "Mulai Dari Rumah", mengajak publik meninjau ulang cara memandang kreativitas anak dimulai dari ruang paling dekat yakni rumah.
Pameran yang berlangsung pada 24 Januari -8 Februari 2026 ini digelar di dua rumah bersebelahan milik keluarganya di kawasan Grand Royal Regency, Kecamatan Taman, Sidoarjo.
Rumah tersebut tak hanya menjadi lokasi pameran, tetapi juga bagian dari karya itu sendiri. Dengan konsep open house, pengunjung diajak memasuki ruang hidup Samurai Jalu, ruang yang dipenuhi coretan, lukisan, instalasi, dan jejak proses kreatifnya sejak usia balita.
Keunikan pameran ini terletak pada kolaborasi lintas generasi antara sang anak, Samurai Jalu dan ayahnya, Andy Rahman, seorang arsitek.
Jika sang ayah merancang struktur, ruang, dan arsitektur rumah, Samurai Jalu menghidupinya melalui gambar, warna, dan imajinasi masa kanak-kanak yang jujur dan bebas.
“Proses kreatif anak selalu dimulai dari rumah. Mencorat-coret dinding adalah salah satunya. Di pameran ini, kami justru menampilkan rumah dalam kondisi sesehari - rumah yang hidup karena ada anak di dalamnya,” ujar Andy Rahman, Sabtu, 24 Januari 2026.
Dikuratori oleh Arik S. Wartono dan dinarasikan oleh Agus “Koecink” Sukamto bersama Saiful Hadjar, pameran ini menampilkan 33 karya berupa lukisan berbagai ukuran, instalasi, serta arsip proses kreatif. Seluruh karya dihasilkan dari aktivitas Samurai Jalu di rumah, tanpa pemisahan tegas antara ruang bermain, ruang belajar, dan ruang berkarya.
Menurut Arik S. Wartono, pameran ini berupaya menggeser paradigma yang masih kuat di banyak keluarga.
“Aktivitas mencorat-coret dalam kajian seni rupa anak dan psikologi perkembangan justru diapresiasi sebagai hal positif. Namun dalam praktik sosial, sering dianggap pelanggaran. Pameran ini mencoba membuka cara pandang baru,” ujarnya.
Agus “Koecink” Sukamto menilai kolaborasi ayah dan anak ini sebagai dialog tanpa kata. Sang ayah membangun rumah agar berdiri kokoh, sementara Samurai Jalu membangun jiwanya.